K-Pop dan Drama Korea Tak Ampuh Selamatkan Korsel dari Resesi

CNN Indonesia | Kamis, 23/07/2020 13:31 WIB
Korea Selatan terkena resesi akibat corona. Industri musik dan film yang sering disebut K-Pop dan K-Drama tak kuat membantu Korsel menghindar dari resesi. Korsel mengalami resesi ekonomi. Industri musik dan film yang sering disebut KPop dan K-Drama tak kuat membantu Korsel menghindar dari resesi. Ilustrasi. (AFP/ED JONES).
Jakarta, CNN Indonesia --

Korea Selatan (Korsel) resmi masuk ke jurang resesi menyusul SingapuraEkonomi Negeri Ginseng itu minus 3,3 persen pada kuartal II 2020 dan minus 1,3 pada kuartal I 2020.

Ini menjadi yang pertama bagi Korea Selatan setelah 17 tahun terakhir ekonominya tumbuh positif. Sebagai informasi, suatu negara disebut resesi jika ekonominya terkontraksi atau minus dalam dua kuartal berturut-turut.

Ekonomi Korea Selatan sebelum ada pandemi virus corona tampak baik-baik saja. Salah satu industri yang menopang ekonomi negara tersebut adalah musik dan film yang sering disebut dengan KPop dan K-Drama.


Selain itu, sektor teknologi dan ekspor juga kerap menyumbang pertumbuhan ekonomi Korea Selatan. Namun, Korea Selatan kini terjerembab ke jurang resesi lantaran aktivitas ekspornya anjlok.

Nilai ekspor Korea Selatan anjlok 16,6 persen atau menjadi yang terparah sejak 1963 silam. Sementara, impornya turun 7,4 persen.

Di sisi lain, tingkat konsumsi masyarakat justru terlihat naik 1,4 persen. Salah satu bentuk konsumsi masyarakat Korea Selatan adalah membeli barang tahan lama, seperti mobil dan peralatan rumah tangga.

"Ekonomi Korea Selatan telah turun sejak 2017 dan guncangan virus corona mempercepat perlambatan ekonomi," tutur Direktur Bank of Korea Park Yang-Soo seperti dikutip dari Asia Nikkei, Kamis (23/7).

Menteri Keuangan Korea Selatan Hong Nam-Ki menyatakan kegiatan ekonomi global yang ditutup akibat pandemi virus corona telah melumpuhkan jalur produksi luar negeri Korea Selatan ke Vietnam dan India. Tak heran, ekspor negara tersebut susut cukup dalam.

Resesi juga terjadi sejalan dengan rencana Presiden Korea Selatan Moon Jae-In menaikkan pajak properti dan penjualan untuk menekan harga rumah, terutama di Seoul. Hal ini membatasi ruang gerak Bank of Korea untuk melonggarkan kebijakan perbankan.

Padahal, Gubernur Bank of Korea Lee Ju-Yeoul mengatakan pentingnya memberikan aliran likuiditas ke sektor-sektor produktif. Hal itu akan membantu dunia usaha kembali beroperasi.

"Yang paling penting adalah kami memiliki banyak tempat produktif yang dapat menarik investasi," pungkasnya.

[Gambas:Video CNN]



(aud/agt)