Jumlah Tenaga Medis RI Kalah Dari Malaysia dan China

CNN Indonesia | Selasa, 28/07/2020 11:07 WIB
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut rasio jumlah tenaga medis di Indonesia hanya kurang dari 0,5 dokter per 1.000 pasien. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut rasio jumlah tenaga medis di Indonesia hanya kurang dari 0,5 dokter per 1.000 pasien. (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan).
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan pandemi virus corona atau covid-19 masih menjadi tantangan bagi Indonesia karena jumlah tenaga medis dan fasilitas ranjang tempat tidur pasien cukup rendah, kalah dari Malaysia dan China.

Berdasarkan catatan Airlangga, jumlah tenaga medis di Indonesia memiliki rasio kurang dari 0,5 dokter per 1.000 pasien. Sementara Malaysia mencapai 1,5 dokter per 1.000 pasien dan China kurang dari 2 dokter per 1.000 pasien.

Bahkan, Indonesia juga tertinggal dari Timor Leste, Thailand, Vietnam, dan Myanmar yang sudah di atas 0,5 dokter per 1.000 pasien. Sementara rata-rata jumlah tenaga medis di negara-negara berkembang mencapai lebih dari 1 dokter per 1.000 pasien.


"Maka dari itu kami menggunakan beberapa tenaga medis yang masih kuliah misalnya untuk memperluas jumlah tenaga medis," ujar Airlangga dalam forum diskusi virtual Yayasan Pembangunan Indonesia, Senin (27/7) malam.

Tak hanya dari sisi jumlah tenaga medis, fasilitas kesehatan pun terbilang minim, misalnya dari jumlah ranjang tempat tidur pasien yang berada di rasio 1 kasur per 1.000 pasien. Jumlah ini kalah dari Malaysia yang hampir 2 kasus per 1.000 pasien dan China 4 kasus per 1.000 pasien.

Indonesia bahkan juga kalah dari Kepulauan Solomon dan Vanuatu yang sudah di atas 1 kasur per 1.000 pasien. Sementara rata-rata negara berkembang sekitar lebih dari 2 kasur per 1.000 pasien.

Kendati begitu, jumlah ranjang pasien di Indonesia masih lebih tinggi dari Thailand, Kamboja, Myanmar dan Filipina sebanyak kurang dari 1 kasur per 1 pasien.

Atas kondisi ini, sambungnya, pemerintah berusaha memetakan kebijakan untuk menambah jumlah tenaga medis dan fasilitas kesehatan bagi pasien positif virus corona. Selain itu, juga didukung dengan kekuatan anggaran.

Salah satunya melalui peningkatan tarif perawatan yang menggunakan skema BPJS Kesehatan. Kemudian, juga mempercepat proses pembayaran klaim perawatan.

"Peningkatan tarif perawatan pasien covid-19 dalam skema BPJS Kesehatan untuk menyelesaikan permasalahan cash flow. Penyelesaian permasalahan selisih klaim pembiayaan antara RS dan BPJS," terangnya.

Tak ketinggalan, juga dengan mempercepat pemberian insentif bagi tenaga medis. Sebab, realisasi pencairan anggaran kesehatan baru mencapai Rp6,12 triliun atau 7 persen dari pagu Rp87,55 triliun pada tahun ini per 27 Juli 2020.

[Gambas:Video CNN]



(uli/sfr)