Naik Kelas, Bank Yudha Bhakti Ungkap 5 Rencana Strategis

Bank Yudha Bhakti, CNN Indonesia | Kamis, 30/07/2020 20:15 WIB
Bank Yudha Bhakti siap menyongsong masa depan di tengah pandemi dengan penerapan lima langkah strategis, termasuk rebranding. YB menyelenggarakan public expose pada Kamis (30/7). (Foto: Dok. Bank Yudha Bhakti)
Jakarta, CNN Indonesia --

Tahun 2020 menjadi tahun penuh tantangan bagi Bank Yudha Bhakti. Tidak saja karena pandemi Covid-19 yang melanda dunia, namun juga karena sejumlah agenda besar dalam upaya pertumbuhan perusahaan yang baik. BYB menyelenggarakan public expose pada Kamis (30/7).

Direktur Utama Tjandra Gunawan mengatakan, pihaknya menetapkan lima langkah strategis. Pertama, perseroan akan naik kelas dan bakal segera menyandang predikat Bank Umum Kelompok Usaha (BUKU) II dengan modal inti di atas Rp1 triliun.

Penambahan modal dilakukan lewat Penawaran Umum Terbatas (PUT) III melalui Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau right issue. PUT III telah diselenggarakan pada 14 Juli 2020 dan dari aksi korporasi itu BYB berhasil mengantongi tambahan modal sebesar Rp150 miliar. Alhasil, modal inti perseroan telah meningkat dari Rp936 miliar per Juni 2020 menjadi Rp1,08 triliun.


"Saat ini, status baru BYB hanya tinggal menunggu pengukuhan dari OJK," kata Tjandra.

Setelah pelaksanaan right issue tersebut, komposisi pemegang saham Bank Yudha Bhakti terdiri dari PT Akulaku Silvrr Indonesia dengan kepemilikan 24,98 persen, Gozco 20,13 persen, Asabri 18,62 persen, Yellow Brick Enterprise Ltd 11,1 persen dan publik 25,17 persen.

Langkah kedua, transformasi bisnis dan digital. Perseroan disebut akan melanjutkan transformasi menjadi bank digital yang dimulai sejak 2019. Tahun ini, BYB akan meluncurkan aplikasi mobile banking dan internet banking demi kemudahan akses nasabah.

Langkah ketiga, melakukan rebranding. Tjandra menyebut, BYB akan hadir dengan wajah baru. Melengkapi transformasi digital, perseroan melakukan perubahan besar-besaran, meliputi nama dan logo bank yang diganti untuk menyesuaikan dengan target pasar yang lebih beragam seperti segmen milenia.

Langkah keempat, mengembangkan produk dan layanan digital demi menyasar perluasan target pasar dengan kemudahan akses secara daring. Dan langkah kelima, mengoptimalkan produk pensiunan dengan pengembangan teknologi dan digitalisasi. Loan organization system dan online financing akan diimplementasikan dalam proses pemberian persetujuan dan penyaluran kredit.

Tjandra menyatakan, kinerja BYB terus meningkat. Pada 2019, perseroan berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp16 miliar, setelah pada 2018 harus menanggung kerugian sebesar Rp136,99 miliar.

"Perolehan laba tersebut ditopang oleh perbaikan kualitas aset sehingga BYB mengantongi pemulihan atas cadangan kerugian penurunan nilai sebesar Rp164,89 miliar. Alhasil, pendapatan operasional lainnya meningkat signifikan dan Rp13,4 miliar tahun 2018 menjadi Rp182,6 miliar. Beban operasional perseroan juga menurun sebesar 13,6 persen menjadi Rp378,9 miliar," katanya.

Tren positif terus terlihat di BYB. Per Juni 2020, BYB mengantongi laba bersih Rp19,32 miliar. Data itu meningkat tajam dari periode sama tahun 2019 yang hanya membukukan net profit Rp9,65 miliar. Bahkan, capaian tersebut telah melampaui laba tahun 2019.

Pada tahun 2019, aset BYB meningkat 13,3 persen year on year (YoY) menjadi Rp5,1 triliun di mana penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) naik 10,9 persen jadi Rp4,06 triliun dari Rp3,66 triliun dan penyaluran kredit turun tipis menjadi Rp3,82 triliun. Hal serupa terjadi di permodalan BYB. Capital Adequacy Ratio (CAR) perseroan naik dari 19,47 persen di tahun 2018 menjadi 29,35 persen pada 2019. Per Juni 2020, angka kembali naik menjadi 33,76 persen.

Pada 2019, BYB melakukan bersih-bersih kredit bermasalah atau non performing loan (NPL). NPL gross perseroan turun jadi 4,37 persen dari 15,75 persen pada tahun 2018 dan NPL nett jadi 1,63 persen dari 9,92 persen. Per Juni 2020, NPL BYB meningkat dibandingkan Desember 2019, meski masih dalam batas aman yakni di bawah 5 persen. NPL gross per Juni 2020 tercatat 4,9 persen dan NPL 2,75 persen.

"Dengan naik kelas menjadi BUKU II, BYB akan punya ruang lebih besar untuk melakukan ekpansi bisnis ke depan. Sehingga diharapkan kinerja perseroan akan terus mengalami pertumbuhan. BYB memastikan akan selalu menerapkan prinsip kehati-hatian dalam menjalankan ekspansinya sehingga kualitas aset tetap terjaga," kata Tjandra.

(rea)