BPS Sebut Inflasi Tahunan Juli Terendah Sejak Mei 2000

CNN Indonesia | Senin, 03/08/2020 14:13 WIB
BPS mengungkapkan inflasi secara tahunan pada Juli 2020 yang sebesar 1,54 persen merupakan inflasi terendah sejak Mei 2000 lalu. BPS mengungkapkan inflasi secara tahunan pada Juli 2020 sebesar 1,54 persen merupakan inflasi terendah sejak Mei 2000 lalu. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma).
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan inflasi secara tahunan (year on year/yoy) pada Juli 2020 sebesar 1,54 persen merupakan inflasi terendah sejak Mei 2000 lalu. Sedangkan secara bulanan (month to month/mtm) Indonesia mengalami deflasi sebesar minus 0,10 persen.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan pada Mei 2000 terjadi inflasi sebesar 1,2 persen secara tahunan.

"Inflasi tahunan kalau kita lihat di sana 1,54 persen. Ini terendah sejak kapan? Jawabannya terendak sejak Mei 2000," ujarnya, Senin (3/8).


Ia mengakui jika inflasi pada tahun ini tidak wajar akibat pandemi Covid-19. Jika dibandingkan dengan tahun lalu, deflasi terjadi pada bulan ketiga sesudah periode Ramadhan dan Lebaran. Sedangkan tahun ini, deflasi terjadi pada bulan kedua usai Ramadhan dan Lebaran.

"Tahun sebelumnya, normal Ramadhan dan Lebaran jadi puncak tingginya inflasi, karena permintaan meningkat dan uang beredar banyak sekali. Namun, itu tidak terjadi tahun ini, ya memang tidak wajar karena situasinya memang tidak normal," ucapnya.

Ia menuturkan pandemi Covid-19 memukul sisi permintaan dan penawaran secara bersamaan. Menurutnya, tren penurunan inflasi mulai tampak sejak Februari ketika kunjungan wisatawan mancanegara mulai berkurang sehingga berdampak pada sektor lainnya. Namun, ia menuturkan tren di seluruh negara juga sama, yakni inflasi melambat bahkan deflasi.

"Dari sisi demand (permintaan) daya beli kurang, karena banyak WFH dan PHK, lalu dari supply (penawaran) juga terganggu. Ini sebabnya, inflasi kalender hanya 0,98 persen masih lemah sekali," katanya.

Ia mengatakan deflasi pada Juli ini disebabkan penurunan harga pada sejumlah kelompok pengeluaran. Tercatat, tiga kelompok pengeluaran mengalami deflasi, yakni kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar minus 0,73 persen dan kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar minus 0,01 persen.

Kemudian, kelompok transportasi sebesar minus 0,17 persen. Pada kelompok pertama, ia menuturkan terjadi penurunan harga sejumlah komoditas pangan, sehingga menyumbang deflasi.

Meliputi, penurunan harga bawang merah, daging ayam ras, dan bawang putih, beras, jeruk, cabai rawit, kelapa, gula pasir.

"Penurunan harga bawang merah dengan andil sebesar 0,11 persen, daging ayam ras andil kepada deflasi 0,04 persen, dan penurunan bawang putih dengan andil deflasi 0,03 persen," katanya.

Dari kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga, deflasi disumbang oleh listrik dan bahan bakar rumah tangga, dengan andil minus 0,04 persen. Sedangkan pada kelompok transportasi, komoditas yang paling dominan memiliki andil pada deflasi adalah penurunan tarif angkutan udara, sebesar dengan andil 0,05 persen.

[Gambas:Video CNN]



(ulf/age)