Sektor Transportasi Jadi Sebab Ekonomi RI Minus 5,32 Persen

CNN Indonesia | Rabu, 05/08/2020 13:24 WIB
BPS menyebut berdasar lapangan usaha, sektor transportasi dan pergudangan jadi sumber penyebab ekonomi RI bisa minus 5,32 persen pada kuartal II 2020. BPS menyatakan berdasarkan lapangan usaha, sektor transportasi dan pergudangan menjadi sumber kontraksi tertinggi untuk ekonomi nasional semester II 2020. Ilustrasi.(CNNIndonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan sektor transportasi dan pergudangan menjadi sumber kontraksi tertinggi untuk ekonomi nasional semester II 2020. Hal itu jika dilihat berdasarkan lapangan usaha.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan sektor transportasi dan pergudangan tercatat minus hingga 30,84 persen sepanjang April-Juni 2020. Realisasi itu berbanding terbalik dengan kuartal II 2019 yang tumbuh 5,88 persen.

"Sektor transportasi terdampak luar biasa karena pendami virus corona. Ini karena ada imbauan work from home (WFH) dan school from home (SFH) sebagai salah satu langkah pencegahan penyebaran pandemi virus corona," ungkap Suhariyanto dalam video conference, Rabu (5/8).


Selain itu, penurunan sektor transportasi juga terjadi karena kebijakan larangan mudik saat Idul Fitri tahun ini. Kemudian, penurunan aktivitas kargo pada masa pandemi juga mempengaruhi kinerja transportasi.

"Kontraksi sektor transportasi terjadi pada semua moda transportasi," kata Suhariyanto.

Detailnya, angkutan rel tercatat minus 63,75 persen, angkutan darat minus 17,65 persen, angkutan laut minus 17,48 persen, angkutan sungai danau dan penyeberangan minus 26,66 persen, angkutan udara minus 80,23 persen, serta pergudangan dan jasa penunjang angkutan minus 38,69 persen.

Kontraksi ini hampir terjadi di seluruh sektor lapangan usaha sepanjang kuartal II 2020. Sektor akomodasi dan makan minum misalnya tercatat minus 22,02 persen.

[Gambas:Video CNN]

Lalu, industri minus 6,19 persen, perdagangan minus 7,57 persen, konstruksi minus 5,39 persen, pertambangan minus 2,72 persen, administrasi pemerintahan minus 3,22 persen, jasa lainnya minus 12,6 prsen, jasa perusahaan minus 12,09 persen, serta pengadaan listrik dan gas minus 5,46 persen.

Secara keseluruhan, Suhariyanto mengatakan kontraksi ekonomi Indonesia pada kuartal II 2020 sebesar 5,32 persen merupakan yang pertama sejak kuartal I 1999. Saat itu, ekonomi Indonesia terkontraksi sebesar 6,13 persen.

"Pertumbuhan kuartal II 2020 ini terkontraksi 5,32 persen. Kalau melacak lagi kepada pertumbuhan ekonomi secara kuartal, kontraksi 5,32 persen merupakan yang terendah sejak kuartal I 1999," pungkas Suhariyanto.

(aud/agt)