Analis Ramal Pasar Tenaga Kerja AS Terhenti Agustus 2020

CNN Indonesia | Jumat, 07/08/2020 13:34 WIB
Analis kehawatir terhentinya pasar tenaga kerja AS akan memicu gelombang PHK besar dalam beberapa bulan ke depan. Analis meramal pasar tenaga kerja AS akan terhenti pada Agustus ini dan memicu gelombang PHK karena corona. Ilustrasi. (AFP Photo/Mandel Ngan).
Jakarta, CNN Indonesia --

Sejumlah analis memperkirakan pasar tenaga kerja AS yang sempat meningkat pada Mei-Juni lalu terhenti pada Juli 2020. Artinya, ada potensi rekrutmen tenaga kerja tidak akan  bertambah pada Agustus ini.

Data pemerintah AS mencatat ada 2 juta pekerjaan pada bulan lalu. Namun, data ketenagakerjaan AS dari Automatic Data Processing (ADP) yang mencatat jumlah pekerjaan di sektor swasta Negeri Paman Sam hanya bertambah 167 ribu pada Juli 2020.

Angka tersebut jauh lebih rendah dari perkiraan konsensus pasar yang mencapai 1,5 juta pekerjaan. Hal ini membuat kekhawatiran baru terhadap munculnya gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dalam beberapa bulan ke depan.


"Harapan kami ada kenaikan pekerjaan yang solid pada Juli jadi sangat tertekan oleh laporan ADP," ungkap Kepala Ekonom Pantheon Macroeconomics Ian Shepherdson seperti dikutip dari AFP, Jumat (7/8).

Analis Grant Thornton Diane Swonk memperkirakan peningkatan pekerjaan baru hanya sekitar 750 ribu pada Juli 2020. Sementara Analis Oxford Economics Lydia Boussour meramalkan hanya mencapai 280 ribu pekerjaan.

"Meskipun tidak besar, tapi penurunan di Juli akan menggarisbawahi bahwa kemampuan untuk pulih menjadi retak di tengah lonjakan kasus virus corona baru," kata Boussour.

Analis IHS Markit Joel Prakken memperkirakan jumlah penambahan pekerjaan baru akan negatif pada Juli.

[Gambas:Video CNN]

"Virus masih menjadi bos (mengendalikan perekonomian) sampai vaksin dikembangkan," kata Prakken.

Sementara Asisten Profesor Ekonomi di Universitas George Washington Steven Hamilton memperkirakan ada 400 ribu perusahaan AS yang tutup permanen selama tiga bulan sampai 15 Juni 2020 karena pandemi virus corona atau covid-19. Jumlah ini, sambungnya, setara dengan kondisi resesi hebat selama empat tahun.

"Jangan berharap pasar tenaga kerja pulih dalam waktu dekat. Penutupan dan penghentian permanen merusak basis untuk kembali," tutur Hamilton.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyambut baik peningkatan rekrutmen pekerja mencapai 4,8 juta pekerjaan pada Juni 2020. Hal ini sempat membuat tingkat pengangguran turun, meski masih di level yang tinggi sekitar 11,1 persen.

Tren pembalikan (rebound) itu sempat membuat tingkat pengangguran mencapai kisaran 10,5 persen. Tingkat ini cukup lumayan, meski masih lebih tinggi dari kondisi saat puncak krisis keuangan global pada Oktober 2009 lalu.

(uli/agt)