Melihat Ekonomi AS yang Ikut Terjebak Resesi Akibat Corona

CNN Indonesia | Kamis, 30/07/2020 21:14 WIB
Ekonomi AS banyak mengandalkan kontribusi rumah tangga. Kontribusi rumah tangga itu turun 34,6 persen karena virus corona. Ekonomi AS banyak bertumpu pada konsumsi rumah tangga yang selama penyebaran pandemi corona tertekan hebat. Ilustrasi. (Pixabay/Ronile).
Jakarta, CNN Indonesia --

Amerika Serikat (AS) menambah daftar negara-negara yang berada di jurang resesi pada kuartal II 2020. Hal ini terjadi karena pertumbuhan ekonomi Negeri Paman Sam negatif dalam dua kuartal berturut-turut.

Pada kuartal I 2020, ekonomi AS sudah minus 5 persen. Lalu, turun 32,9 persen pada kuartal II 2020.

Penurunan kinerja ekonomi  AS tersebut merupakan yang terburuk sejak 1974 masuk ke jurang resesi menyusul Jerman, Korea Selatan, hingga Singapura yang sudah lebih dulu merasakan kondisi tersebut.


Jatuhnya ekonomi negara adidaya itu tak lepas dari tekanan pandemi virus corona atau covid-19. Data Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organizations/WHO) mencatat AS merupakan negara dengan jumlah kasus positif virus corona terbanyak di dunia, yaitu mencapai 4,32 juta kasus per hari ini, Kamis (30/7).

Setelah AS, kasus terbanyak disumbang oleh Brasil 2,48 juta dan India 1,58 juta. AS bahkan menyumbang seperempat dari total kasus positif virus corona di dunia sebanyak 16,77 juta kasus.

Tingginya jumlah kasus positif virus corona membuat masing-masing pemerintah negara bagian di AS menerapkan kebijakan penguncian (lockdown) wilayah untuk mencegah penyebaran. Hal ini membuat aktivitas ekonomi masyarakat turun drastis.

Padahal, AS merupakan negara yang kerap mengandalkan kontribusi ekonomi dari konsumsi rumah tangga. Namun akibat pandemi corona, konsumsi rumah tangga AS turun 34,6 persen secara tahunan pada kuartal II 2020.

Penurunan konsumsi terjadi karena banyak masyarakat AS yang kehilangan mata pencaharian, baik yang bekerja di sektor informal maupun formal akibat Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Data ketenagakerjaan AS mencatat setidaknya ada 30,2 juta orang AS yang mendaftar ke program tunjangan pengangguran akibat kehilangan pendapatan.

Tak hanya dari sisi konsumsi rumah tangga, pandemi corona juga menekan ekspor AS. Padahal, sektor ini juga menjadi tulang punggung ekonomi negara pimpinan Presiden Donald Trump itu.

Tercatat, ekspor turun di atas 64 persen dan impor turun 53,4 persen pada kuartal II 2020. Sebelumnya pandemi corona, AS banyak mengandalkan hubungan dagang dengan negara-negara mitra utama, seperti Uni Eropa, Kanada, China, Meksiko, dan Jepang.

[Gambas:Video CNN]

AS biasa memperdagangkan sumber daya alamnya yang cukup melimpah, seperti di bidang pertanian, minyak, dan pertambangan. AS merupakan salah satu negara produsen minyak terbesar di dunia.

Perdagangan AS juga mengandalkan produk manufaktur, jasa, hingga kerja sama infrastruktur. Hal ini tak lepas dari banyaknya pabrik-pabrik berbagai sektor yang bermarkas di AS, salah satunya di bidang teknologi.

Tak ketinggalan, ekonomi AS juga hidup dari investasi. Hal ini terlihat dari bursa saham AS yang menjadi acuan dunia dan memberi pengaruh ke bursa-bursa saham negara lain di dunia.

Aliran investasi dari AS pun kerap meluncur ke berbagai negara. Begitu juga berkembang di dalam negerinya sendiri.

(uli/agt)