Resesi Ancam Malaysia, Ekonomi Kuartal II Minus 17,1 Persen

CNN Indonesia | Jumat, 14/08/2020 14:12 WIB
Malaysia terancam resesi usai kontraksi pertumbuhan ekonomi hingga minus 17,1 persen pada kuartal II. Kondisi ini terparah sejak 20 tahun terakhir. Malaysia terancam resesi usai kontraksi pertumbuhan ekonomi hingga minus 17,1 persen pada kuartal II. Kondisi ini terparah sejak 20 tahun terakhir. (iStockphoto/Ravindran John Smith).
Jakarta, CNN Indonesia --

Pertumbuhan ekonomi Malaysia terkontraksi hingga minus 17,1 persen pada kuartal kedua tahun ini. Perekonomian Negeri Jiran ini terparah dalam 20 tahun terakhir dan membuat Malaysia terancam masuk jurang resesi.

Ekonomi Malaysia terjerembab karena jatuhnya perdagangan global dan pembatasan sosial akibat penyebaran virus corona (covid-19).

Capaian ini menjadi capaian terburuk sejak krisis keuangan global pada 2009 dan yang terdalam sejak gejolak keuangan Asia 11 tahun sebelumnya yang menandai resesi Negeri Jiran.


Angka tersebut juga lebih buruk dari prediksi Bloomberg, yaitu kontraksi 10,9 persen. Secara kuartalan, pertumbuhan ekonomi Malaysia menyusut 16,5 persen.

Ekonom Bank Investasi Kenanga Wan Suhaimi Saidi memperingatkan bahwa ekonomi Malaysia yang bergantung pada perdagangan ini tengah menuju resesi. Pasalnya, ia menilai hingga saat ini tidak ada tanda-tanda pemulihan dalam permintaan atau pun aktivitas bisnis.

Melansir AFP, Jumat (14/8), ia memperkirakan kontraksi sepanjang tahun berada di rentang 4 persen hingga 6 persen. Lebih dalam dari perkiraan bank sentral sebesar 3,5 persen - 5,5 persen.

Namun, Kepala Bank Negara Malaysia Nor Shamsiah Mohamad Yunus optimis ekonomi Malaysia akan pulih mulai paruh kedua tahun ini karena pembatasan fisik mulai dilonggarkan.

"Saya sangat optimis bahwa yang terburuk telah berlalu," terang dia.

Bank sentral Malaysia (Bank Negara) menyebut kontraksi pada kuartal kedua mencerminkan dampak yang belum pernah terjadi sebelumnya dari upaya pengendalian pandemi yang diberlakukan sejak pertengahan Maret hingga awal Juni.

"Pembatasan yang termasuk penutupan bisnis dan karantina dalam rumah mengakibatkan guncangan permintaan dan pasokan," lanjutnya.

Pembatasan ini juga disebutnya memukul kedatangan wisatawan, meski kasus di Malaysia relatif kecil. Malaysia mencatat lebih dari 9.000 kasus dan 125 kematian.

Perekonomian Malaysia sendiri sangat bergantung pada perdagangan dan pariwisata, dengan ekspor utamanya termasuk minyak sawit, minyak mentah, dan gas alam.

[Gambas:Video CNN]



(wel/bir)