MPR Ingatkan Pemerintahan Jokowi soal Efek Domino Resesi

CNN Indonesia | Jumat, 14/08/2020 09:55 WIB
MPR mengingatkan Presiden Jokowi dampak resesi, antara lain kredit macet perbankan, inflasi atau deflasi tajam, hingga neraca dagang yang minus. MPR mengingatkan Presiden Jokowi dampak resesi, antara lain kredit macet perbankan, inflasi atau deflasi tajam, hingga neraca dagang yang minus. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay).
Jakarta, CNN Indonesia --

MPR mengingatkan Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait ancaman resesi yang ada di depan mata akibat pandemi virus corona. Jika ancaman resesi ekonomi tak segera diatasi, maka efek dominonya akan terasa di berbagai sektor.

Ketua MPR Bambang Soesatyo mengungkapkan salah satu efek domino yang akan dirasakan akibat resesi adalah macetnya kredit perbankan. Ini artinya, rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) berpotensi meningkat tajam.

Tidak hanya itu, efek lainnya adalah lonjakan inflasi yang sulit dikendalikan atau bahkan deflasi yang tajam karena ekonomi tak bergerak.


Lonjakan inflasi berarti harga barang di pasar akan meningkat signifikan. Sedangkan deflasi berarti daya beli masyarakat rendah dan harga barang di pasar turun tajam.

"Kemudian, neraca perdagangan akan menjadi minus dan berimbas langsung pada cadangan devisa," kata Bambang dalam video conference, Jumat (14/8).

Rillnya, dampak resesi terhadap suatu negara adalah peningkatan pengangguran, anjloknya pendapatan, meningkatnya angka kemiskinan, dan merosotnya harga aset. Jenis aset yang dimaksud, adalah pasar saham dan properti.

"Lalu, melebarnya angka ketimpangan, tingginya utang pemerintah bersamaan dengan penerimaan pajak yang anjlok, serta produksi yang hilang secara permanen, dan bisnis gulung tikar," jelas Bambang.

Oleh karena itu, Bambang bilang masyarakat perlu bergotong-royong dalam mendukung kebijakan pemerintah dalam menangani pandemi virus corona.

Beberapa kebijakan yang dilakukan pemerintah sejauh ini, antara lain memberikan permodalan bagi pelaku usaha kecil maupun besar, penjaminan modal kerja, dan restrukturisasi kredit.

"Perlu juga ada keseimbangan penyelesaian persoalan kesehatan dan sekaligus perekonomian. Tentu dengan catatan, bahwa kesehatan tetap menjadi prioritas karena dengan sehat, persoalan ekonomi menjadi lebih mudah penanganannya," jelas Bambang.

Sebagai informasi, ekonomi Indonesia ambruk hingga minus 5,32 persen pada kuartal II 2020. Angkanya berbanding terbalik dari kuartal I 2020 yang masih positif meski anjlok sebesar 2,97 persen.

Seluruh komponen berdasarkan pengeluaran pun terkontraksi. Konsumsi rumah tangga tercatat minus 5,51 persen, investasi minus 8,61 persen, ekspor minus 11,66 persen, konsumsi pemerintah 6,9 persen, konsumsi Lembaga Non-Profit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT) minus 7,76 persen, dan impor minus 16,96 persen.

Hal yang sama terjadi pada mayoritas sektor usaha yang pertumbuhannya merah sepanjang April-Juni 2020. Sektor transportasi dan pergudangan menjadi yang paling parah karena minus mencapai 30,84 persen.

[Gambas:Video CNN]



(aud/bir)