Ekspor RI Masih Naik ke Negara Resesi AS dan Singapura

CNN Indonesia | Selasa, 18/08/2020 14:16 WIB
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor ke sejumlah negara yang telah masuk ke jurang resesi masih tinggi. Badan Pusat Statistik mencatat nilai ekspor ke sejumlah negara yang telah masuk ke jurang resesi masih tinggi.(ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto).
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor ke sejumlah negara yang masuk ke jurang resesi masih tinggi. Ini terbukti dari realisasi ekspor ke Amerika Serikat (AS) dan Singapura yang meningkat pada Juli 2020.

"Ekspor ke Singapura meski sekarang resesi ternyata masih meningkat," kata Kepala BPS Suhariyanto dalam video conference, Selasa (18/8).

Suhariyanto memaparkan tujuan ekspor Indonesia tertinggi adalah ke Swiss sebesar US$306,2 juta, AS sebesar US$234,8 juta, Singapura sebesar US$111,2 juta, China sebesar US$97,5 juta, dan Malaysia sebesar US$93,2 juta.


"Untuk ke AS meningkat cukup tinggi, beberapa yang diekspor pakaian, aksesoris, mesin dan perlengkapan listrik, logam mulia, serta permata," ucap Suhariyanto.

Sementara, beberapa barang yang diekspor ke Singapura adalah logam mulia, perhiasan, timah, serta mesin dan perlengkapan elektrik.

Diketahui, AS dan Singapura resmi masuk ke jurang resesi pada kuartal II 2020. Ekonomi kedua negara itu minus dalam dua kuartal berturut-turut.

Ekonomi AS tercatat minus sebesar 5 persen pada kuartal I 2020 dan kembali minus 32,9 persen pada kuartal II 2020. Kemudian, ekonomi Singapura minus 0,7 persen pada kuartal I 2020 dan minus 42,9 persen pada kuartal II 2020.

Secara keseluruhan, neraca perdagangan Juli 2020 surplus sebesar US$3,26 miliar. Ini merupakan surplus terbesar sejak Februari 2020, di mana saat itu terjadi surplus sebesar US$3,45 miliar.

"Neraca perdagangan Juli 2020 surplus, ini karena ekspor naik cukup tinggi dan impor turun secara bulanan," kata Suhariyanto.

Jika dilihat, ekspor Juli 2020 meningkat 14,33 persen dari US$12,01 miliar pada Juni 2020 menjadi US$13,73 miliar. Ekspor ini didominasi oleh non migas yang sebesar US$13,03 miliar atau naik 13,86 persen, sedangkan ekspor migas tercatat US$700 juta atau naik 23,77 persen.

Lalu, impor terlihat turun sebesar 2,73 persen secara bulanan. Namun, jika dilihat secara tahunan anjlok hingga 32,55 persen menjadi US$10,47 miliar pada Juli 2020.

Di sisi lain, ekspor RI juga tercatat turun tajam ke beberapa negara. Suhariyanto menjabarkan ekspor turun ke Jibuti sebesar US$7,2 juta, Yunani US$9,6 juta, Bulgaria US$20,1 juta, Tanzania US$20,8 juta, Italia US$27,7 juta.

[Gambas:Video CNN]



(aud/age)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK