Cara Meraup Cuan di Tengah PSBB Jilid II

CNN Indonesia | Rabu, 16/09/2020 12:20 WIB
PSBB DKI Jilid II sudah mulai berjalan. Berikut tip agar masyarakat tetap bisa investasi dan mendapat cuan di tengah ketidakpastian corona. PSBB DKI Jilid II sudah mulai berjalan. Di tengah situasi seperti sekarang, masyarakat harus ekstra hati-hati agar keuangan tak semakin 'boncos'. (iStockphoto/Chainarong Prasertthai).
Jakarta, CNN Indonesia --

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan resmi memberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) jilid II di ibu kota mulai Senin (14/9). Hal ini dilakukan karena kasus penularan virus corona terus berada dalam tren kenaikan.

Ini artinya, ketidakpastian masih berlanjut. Di tengah situasi seperti sekarang, masyarakat harus ekstra hati-hati agar keuangan tak semakin 'boncos'.

Jika ingin investasi, masyarakat perlu menyeleksi secara ketat instrumen apa saja yang bisa membawa keuntungan di tengah pandemi. Jangan sampai, sisa dana yang dimiliki habis begitu saja karena nilai portofolio terus menyusut.


Perencana Keuangan OneShildt Financial Planning Budi Rahardjo mengatakan peluang untuk mendapatkan keuntungan dari investasi selalu ada di setiap kondisi, tanpa terkecuali pandemi. Salah satunya adalah emas.

Emas masuk sebagai aset safe haven. Artinya, emas merupakan aset investasi yang mempunyai tingkat risiko rendah. Emas kerap dijadikan pelarian ketika ekonomi sedang tak aman. Harganya cenderung menguat jika krisis melanda.

"Emas pergerakannya tidak seperti saham, tidak begitu volatile. Jadi emas bisa digunakan sebagai instrumen penyeimbang," ungkap Budi kepada CNNIndonesia.com, Selasa (15/9).

Biasanya, Budi bilang harga emas akan meningkat selama masyarakat masih pesimistis dengan pemulihan ekonomi nasional di tengah pandemi. Namun, harga emas juga bisa turun ketika masyarakat mulai optimistis dengan perekonomian global.

Hanya saja, kalau pun turun, biasanya tak sedalam pasar saham. Untuk jangka panjang, Budi menyatakan emas bisa memberikan keuntungan bagi investor.

Selain emas, Budi menyarankan masyarakat juga mengoleksi saham. Menurutnya, masyarakat tak perlu takut dengan saham di tengah pandemi seperti ini.

Pasalnya, pasar saham kini sedang murah-murahnya. Masyarakat justru bisa memanfaatkan momentum tersebut untuk meraup keuntungan.

"Seperti kemarin saham sudah koreksi, tapi masyarakat tiba-tiba optimistis jadi saham tumbuh. Jadi masyarakat bisa lakukan diversifikasi, sekian persen belikan saham, sekian persen beli instrumen lain," terang Budi.

Budi menjelaskan saham dan emas bisa saling melengkapi. Ketika ekonomi kembali pulih, nilai saham akan tumbuh dan masyarakat akan untung.

Di sisi lain, harga emas otomatis akan turun jika ekonomi kembali pulih. Dengan demikian, investor akan merugi.

"Tetapi kerugian di emas ditutup oleh saham, kalau saham turun emas naik, jadi dapat untung dari emas," jelas Budi.

Namun, Budi mengingatkan emas dan saham sifatnya adalah jangka panjang. Jadi, jangan mengharap untung cepat dari saham dan emas.

Untuk jangka pendek, masyarakat bisa mengamankan dananya di deposito. Keuntungannya memang sangat rendah, tapi deposito tak akan membuat modal investor turun seperti emas dan saham.

"Kalau untuk jangka pendek ambil strategi defensif dengan konservatif. Instrumen pasar uang cocok, minim volatilitas. Pasar uang itu seperti deposito atau utang jangka pendek di bawah 1 tahun," papar Budi.

Sementara, Budi mengatakan masyarakat juga harus mempertimbangkan likuiditas ketika hendak berinvestasi. Misalnya, masyarakat ingin berinvesastasi di sektor properti.

Sektor tersebut biasanya membutuhkan dana besar dalam berinvestasi. Nah, masyarakat sebaiknya memastikan terlebih dahulu jumlah dana yang dimiliki.

"Dananya jika suatu saat ingin dicairkan, ada risiko likuiditas tinggi karena sulit jual lagi. Jadinya justru jual murah. Jadi investasi sesuai dengan kemampuan dan kondisi finansial," tegas Budi.

Tak hanya investasi, Perencana Keuangan Finansia Consulting Eko Endarto menyatakan masyarakat bisa memanfaatkan momentum pandemi ini dengan mulai berbisnis. Pasalnya, mayoritas kantor yang menerapkan bekerja dari rumah (work from home/WFH).

Masyarakat otomatis lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Ketika jam kerja habis, masyarakat bisa mulai berbisnis sesuai hobi.

"Bisnis online. Pasti untung. Sekarang kan banyak kegiatan di rumah," kata Eko.

Untuk permulaan, masyarakat bisa memasarkan produknya ke tetangga. Jadi, pangsa pasarnya adalah lingkungan sekitar terlebih dahulu.

"Kalau laku di lingkungan sekitar otomatis menyebar, harus ada rasa kepercayaan dulu," ucap Eko.

Kegiatan seperti itu, tambah Eko, bisa jadi lahan keuntungan baru bagi masyarakat di tengah pandemi virus corona. Dengan kata lain, cuan tak hanya bisa diraih dari investasi saja.

[Gambas:Video CNN]



(aud/age)