IMF Gelontorkan Pinjaman US$1 M untuk Angola Hadapi Corona

CNN Indonesia | Kamis, 17/09/2020 11:06 WIB
IMF mengucurkan pinjaman sebesar US$1 miliar atau sekitar Rp14,8 triliun untuk membantu perekonomian Angola di tengah pandemi corona. IMF mengucurkan pinjaman sebesar US$1 miliar atau sekitar Rp14,8 miliar untuk membantu perekonomian Angola di tengah pandemi corona. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia --

Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) menyetujui pinjaman senilai US$1 miliar atau sekitar Rp14,8 triliun (asumsi kurs Rp14.800 per dolar AS). Pinjaman itu diberikan untuk membantu perekonomian Angola yang terpukul karena pandemi virus corona.

Dalam pernyataan yang dikutip dari AFP, Kamis (17/9), IMF juga meningkatkan kuota bantuan tiga program di kawasan Afrika bagian selatan itu sebesar US$765 juta.

Saat ini, Angola menghadapi tingkat inflasi dan beban bunga yang tinggi. Pada Desember 2018 lalu, Angola menyepakati persetujuan tambahan fasilitas pembiayaan IMF sebesar US$3,7 miliar. Sekitar US$2,5 miliar di antaranya telah disalurkan.


Angola merupakan salah negara penghasil minyak mentah terbesar di Afrika. Namun, harga minyak dunia saat ini tengah tertekan di tengah melambatnya permintaan dan perang harga antar negara produsen utama.

Pada Juli lalu, IMF memperkirakan laju ekonomi Angola bakal merosot 4 persen. Artinya, pertumbuhan ekonomi Angola minus dalam lima tahun berturut-turut.

"Pemerintah Angola tetap berkomitmen untuk menerapkan kebijakan rasional di bawah program yang didukung IMF meski kondisi eksternal menurun karena pandemi covid-19, termasuk efek negatif terhadap kesehatan masyarakat, perlindungan sosial, anggaran, dan utang pemerintah," ujar Deputi Direktur Pelaksana IMF Antoinette Sayeh dalam pernyataannya.

[Gambas:Video CNN]

Tahun ini, pemerintah Angola menerapkan anggaran tambahan konservatif dengan meningkatkan pendapatan non minyak dan mengurangi belanja yang tidak penting.

"Meski krisis, konsolidasi fiskal akan terus berjalan sembari menciptakan ruang yang cukup untuk belanja kesehatan dan perlindungan sosial," ujar Sayeh.

(sfr/bir)