OECD Revisi Ekonomi Global, Perkiraan Membaik

CNN Indonesia | Kamis, 17/09/2020 10:01 WIB
OECD merevisi pertumbuhan ekonomi global dari minus 6 persen menjadi 4,5 persen. Angka ini membaik sejalan dengan naiknya harapan di AS, China, dan Eropa. OECD merevisi pertumbuhan ekonomi global dari minus 6 persen menjadi 4,5 persen. Angka ini membaik sejalan dengan naiknya harapan di AS, China, dan Eropa. Ilustrasi. (AFP/William West).
Jakarta, CNN Indonesia --

Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) menilai guncangan besar akibat pandemi virus corona terhadap ekonomi negara terbesar di dunia kemungkinan tak seburuk yang dikhawatirkan sejumlah ekonom beberapa bulan lalu.

Mengutip CNN.com, Kamis (17/9), OECD merevisi proyeksi ekonomi global tahun ini. Lembaga yang berbasis di Paris itu meramalkan ekonomi dunia terkontraksi sebesar 4,5 persen.

Semula, OECD memperkirakan perekonomian global kontraksi hingga 6 persen pada tahun ini. Hal ini dikarenakan OECD menaikkan perkiraan pertumbuhan ekonomi di AS, China, dan Eropa.


Kendati kondisinya membaik, proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun depan turun dari 5,2 persen menjadi hanya 5 persen. Sebab, OECD menurunkan ekspektasi ekonomi di beberapa negara berkembang, yakni Meksiko, Argentina, India, Afrika Selatan, Indonesia, dan Arab Saudi.

"Penurunan (perkiraan) mencerminkan penyebaran virus corona yang berkepanjangan dan tingkat kemiskinan yang tinggi," ujar Ekonom OECD, dikutip Kamis (17/9).

Ekonomi China diproyeksi naik 1,8 persen pada 2020. Di sini, China menjadi satu-satunya negara G20 yang pertumbuhannya diprediksi positif.

Sementara, OECD memprediksi ekonomi AS terkontraksi 3,8 persen. Kemudian, ekonomi di 19 negara di Eropa minus 7,9 persen.

Kemudian, ekonomi Afrika Selatan diproyeksi minus 11,5 persen, Meksiko minus 10,2 persen, Italia minus 10,5 persen, dan India minus 10,2 persen.

[Gambas:Video CNN]

Ketidakpastian

Sejauh ini, OECD mengingatkan ekonomi dunia masih bergantung dengan perkembangan kasus penularan virus corona. Selain itu, kebijakan yang diambil oleh masing-masing negara juga akan mempengaruhi perekonomian.

Menurut OECD, pemulihan ekonomi global sempat kehilangan beberapa kali momentum selama musim panas. Ketidakpastian pun masih tinggi saat ini.

"Pemulihan sekarang sedang berlangsung menyusul pelonggaran dari kebijakan penguncian wilayah (lockdown) dengan pembukaan sebagian operasional bisnis. Namun, ketidakpastian masih tinggi dan kepercayaan masih rapuh," ungkap OECD.

Sementara, OECD menyatakan Inggris Raya akan mencapai perjanjian perdagangan bebas untuk barang dari Uni Eropa. Namun, pembahasan itu bisa saja terganggu oleh RUU kontroversial yang diperkenalkan oleh Perdana Menteri Boris Johnson.

Saat ini, OECD memprediksi ekonomi Inggris Raya menyusut 10,1 persen pada 2020. Angka itu tak sedalam dari prediksi sebelumnya.

Secara keseluruhan, OECD menilai sebagian perekonomian di sebagian besar negara pada 2021 tetap di bawah 2019. Bahkan, realisasinya berpotensi lebih rendah dari proyeksi sebelum ada pandemi.

"Di sebagian besar negara, tingkat output pada akhir 2021 diproyeksikan tetap di bawah 2019 dan jauh lebih lemah daripada yang diproyeksi sebelum pandemi. Ini karena ada risiko biaya jangka panjang dari pandemi," pungkas OECD.

(aud/bir)