BPS: 55 Persen Pebisnis Tak Yakin Bisa Bertahan Lawan Corona

CNN Indonesia | Minggu, 20/09/2020 20:11 WIB
Berdasarkan survei BPS, 55,32 persen pengusaha tak yakin dapat bertahan apabila pandemi corona tak segera berakhir dan tanpa bantuan pemerintah. Berdasarkan survei BPS, 55,32 persen pengusaha tak yakin dapat bertahan apabila pandemi corona tak segera berakhir dan mendapat bantuan pemerintah. (CNN Indonesia/Yuliyanna Fauzi).
Jakarta, CNN Indonesia --

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengatakan 55,32 persen pengusaha tak yakin dapat bertahan jika pandemi covid-19 tak segera reda dan tanpa bantuan dari pemerintah.

Hal tersebut diketahui berdasarkan hasil survei dampak Covid-19 terhadap pelaku usaha yang dilakukan BPS pada periode 10-26 Juli 2020 dengan jumlah responden 34.559 pelaku usaha dari berbagai sektor.

"55 persen pelaku usaha tidak tahu berapa lama perusahaan dapat bertahan dengan kondisi saat ini bila tidak ada perubahan operasi dan bantuan," ujarnya dalam webinar yang digelar Kelompok Studi Demokrasi Indonesia, Minggu (20/9).


Di luar itu, 19 persen pengusaha mengaku dapat bertahan hingga Oktober 2020 meski tanpa bantuan dari pemerintah. Sementara, 26,94 persen sisanya yakin dapat bertahan selama lebih dari tiga bulan meskipun tanpa ada perubahan operasi dan bantuan pemerintah.

"Artinya ada sekitar 43 persen pelaku usaha dapat bertahan maksimal 3 bulan. Situasinya agak mengkhawatirkan," terang Suhariyanto.

Dari survei tersebut, lanjut Suhariyanto, diketahui pula sebanyak 82,29 persen Usaha Menengah Besar (UMB) mengalami penurunan pendapatan selama pandemi. Selain itu, Usaha Mikro Kecil (UMK) mencatatkan penurunan pendapatan sebesar 84,20 persen.

Beberapa sektor usaha yang paling tinggi terdampak antara lain akomodasi dan makan minum sebesar 92,47 persen, jasa lainnya 90,90 persen, serta transportasi dan pergudangan sebesar 90,34 persen.

[Gambas:Video CNN]

"8 dari setiap 10 perusahaan baik UMK maupun UMB cenderung mengalami penurunan permintaan karena pelanggan atau klien juga terdampak, covid-19 menghantam dari permintaan maupun penawaran," jelas Suhariyanto.

Kendati demikian, di tengah kondisi krisis, banyak perusahaan melakukan diversifikasi usaha agar tetap bisa bertahan. Riset BPS juga menyebutkan bahwa UMK sangat membutuhkan prioritas bantuan berupa modal usaha dari pemerintah.

(hrf/sfr)