Alasan Bank-bank Kakap Alirkan Uang Haram

CNN Indonesia | Senin, 21/09/2020 12:06 WIB
ICIJ menyebut bank-bank kakap yang menerima keluar-masuk uang haram semata-mata demi keuntungan. ICIJ menyebut bank-bank kakap yang menerima keluar-masuk uang haram semata-mata demi keuntungan. (CNN Indonesia/Andry Novelino).
Jakarta, CNN Indonesia --

Konsorsium Jurnalis Investigatif Internasional (ICIJ) mengungkapkan aliran uang haram lewat bank-bank kelas kakap di dunia. Temuan itu bersumber dari dokumen rahasia pemerintah AS yang mengungkapkan bahwa sejumlah bank kelas kakap melakukan tindakan pencucian uang untuk menghapus jejak sumber dana jaringan kriminal.

Dokumen File FinCEN mencakup lebih dari 2.100 laporan aktivitas mencurigakan yang diajukan oleh bank dan perusahaan keuangan lain ke Jaringan Penegakan Kejahatan Keuangan Departemen Keuangan AS. FinCEN, adalah unit intelijen di jantung sistem global untuk memerangi pencucian uang.

Dalam laporannya yang dipublikasikan di www.icij.org, dikutip Senin (21/9), ICIJ menyebutkan sejumlah nama bank kelas kakap dunia, seperti JPMorgan, HSBC, Standard Chartered Bank, Deutsche Bank, dan Bank of New York Mellon.


Mereka disebut terus mengambil untung dari praktek berbahaya itu, bahkan setelah otoritas AS mendenda lembaga keuangan tersebut karena kegagalan membendung aliran uang haram sebelumnya.

ICIJ juga mengungkapkan alasan bank kelas kakap itu mempertahankan praktek haram tersebut, yakni semata demi keuntungan. Bank bisa meraup keuntungan dari uang yang berputar melalui jaringan rekening pengguna sistem keuangan haram tersebut.

JPMorgan, misalnya, berhasil mencetak pendapatan sekitar setengah miliar dolar AS dari kasus penipuan investasi dengan skema Ponzi oleh Bernie Madoff.

Di sisi lain, berurusan dengan nasabah curang memang membawa risiko. Dalam kasus Madoff, JPMorgan harus membayar US$2,6 miliar kepada agensi AS untuk menyelesaikan penyelidikan atas perannya dalam skema Madoff.

Namun, JPMorgan berhasil membukukan keuntungan lebih dari dua kali lipat jumlah denda itu hanya dalam satu kuartal, yakni hampir US$22 miliar dalam satu tahun.

Tak berhenti pada kasus Madoff, JPMorgan kembali terlibat dalam aliran uang oknum yang terlibat kasus kejahatan, menurut FinCEN Files.

Salah satunya, Jho Low, seorang pemodal yang dituduh oleh pihak berwenang di berbagai negara sebagai dalang penggelapan lebih dari US$4,5 miliar dari dana pembangunan ekonomi Malaysia atau 1Malaysia Development Berhad (1MDB).

Low memindahkan dana lebih dari US$1,2 miliar melalui JPMorgan dari 2013 hingga 2016.

Kemudian, JPMorgan juga mengalirkan uang untuk perusahaan dan orang-orang yang terkait dengan skandal korupsi di Venezuela. Korupsi ini menciptakan salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia.

Salah satu warga Venezuela yang mendapat bantuan dari JPMorgan ialah Alejandro "Piojo" Isturiz, mantan pejabat pemerintah yang didakwa oleh otoritas AS sebagai pemain dalam skema pencucian uang internasional.

Menurut FinCEN Files, JPMorgan diduga memindahkan lebih dari US$63 juta untuk perusahaan yang terkait dengan Isturiz dan skema pencucian uang periode 2012 hingga 2016.

Selain JPMorgan, bank kakap lainnya HSBC, Standard Chartered Bank, Deutsche Bank, dan Bank of New York Mellon juga terus mengalirkan dana oknum kriminal meskipun telah mendapatkan hukuman dari otoritas AS.

Pada 2012, HSBC mengakui telah mencuci setidaknya US$881 juta dana kartel narkoba Amerika Latin. Para pelaku menggunakan kotak berbentuk khusus yang sesuai dengan teller HSBC untuk memasukkan sejumlah besar uang dari bisnis narkoba.

Imbasnya, bank terbesar di Eropa membayar denda US$1,9 miliar dan pemerintah setuju untuk menangguhkan tuntutan pidana terhadap bank.

Penyelidikan atas dokumen itu, dipimpin oleh 108 media internasional dari 88 negara ini didasarkan pada ribuan laporan aktivitas mencurigakan (SARs) yang disampaikan kepada lembaga penegakan hukum keuangan Departemen Keuangan AS, FinCEN, oleh berbagai bank di seluruh dunia.

[Gambas:Video CNN]



(ulf/bir)