Harga Minyak Terjun Bebas Seiring Lompatan Kasus Covid-19

CNN Indonesia | Selasa, 22/09/2020 08:06 WIB
Harga minyak mentah turun tajam nyaris 5 persen dipicu oleh meningkatnya kasus positif covid-19 di dunia yang menekan permintaan minyak global. Harga minyak mentah turun tajam nyaris 5 persen dipicu oleh meningkatnya kasus positif covid-19 di dunia yang menekan permintaan minyak global. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Agus Triyono).
Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak mentah dunia turun tajam hampir 5 persen perdagangan Senin (21/9) waktu Amerika Serikat. Penurunan harga minyak dipicu oleh tingginya kasus positif virus corona (covid-19) yang dikhawatirkan akan menekan permintaan minyak global.

Ditambah lagi, wacana produksi minyak Libya ikut mendorong kecemasan pelaku pasar akan kelebihan pasokan.

Dilansir dari Antara, Selasa (22/9), harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman November anjlok US$1,71 atau 3,96 persen menjadi US$41,44 per barel di London ICE Futures Exchange.


Sementara, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober jatuh US$1,8 atau 4,38 persen menjadi US$39,31 per barel di New York Mercantile Exchange. 

Penurunan harga minyak tersebut merupakan yang terbesar sejak perdagangan dua pekan terakhir.

Pasar minyak mentah seperti pasar ekuitas dan komoditas lainnya menghindari risiko, sehingga ketika tingkat infeksi covid-19 di Eropa dan negara-negara lain naik, terjadi keraguan atas pemulihan ekonomi.

"Kami melihat berita yang lebih menyedihkan tentang permintaan bahan bakar jet," kata Direktur Riset Pasar di Tradition Energy Gary Cunningham.

"Kami mencari pasar yang jauh lebih lunak. Gambaran ekonomi tidak terlihat secerah sebelumnya," tutur dia melanjutkan.

Diketahui, lebih dari 30,78 juta orang telah terinfeksi covid-19, menurut perhitungan Reuters. Bahkan, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson pada Senin (21/9) mempertimbangkan penguncian nasional kedua, sementara kasus di Spanyol dan Prancis juga meningkat.

Sementara itu, pekerja di ladang utama Sharara Libya telah memulai kembali operasinya setelah National Oil Corporation mengumumkan pencabutan sebagian force majeure. Namun, tidak jelas kapan dan pada tingkat apa produksi dapat dimulai kembali.

[Gambas:Video CNN]



(wel/bir)