Badai Ganggu Pasokan AS, Harga Minyak Dunia Melejit

CNN Indonesia | Rabu, 16/09/2020 08:15 WIB
Harga minyak mentah dunia berbalik menguat di perdagangan global pada Selasa (15/9). Harga minyak mentah dunia berbalik menguat di perdagangan global pada Selasa (15/9).(ANTARA FOTO/Rosa Panggabean).
Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak mentah dunia berbalik menguat di perdagangan global pada Selasa (15/9) atau Rabu waktu Indonesia. Penguatan ditopang gangguan pasokan minyak AS akibat Badai Sally.

Dilansir dari Antara, harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman November melejit 92 sen atau 2,3 persen menjadi US$40,53 per barel di London ICE Futures Exchange.

Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober meroket US$1,02 atau 2,7 persen menjadi US$38,28 per barel di New York Mercantile Exchange.


Penguatan harga minyak ditopang oleh penurunan produksi minyak dan gas (migas) di lepas pantai AS yang berkurang sekitar seperempat dari posisi normal. Kilang pun ditutup karena lintasan Badai Sally yang menerjang sejak pekan lalu bergeser ke timur menuju Alabama barat dan hanya menyisakan beberapa kilang di Pantai Teluk.

"Peristiwa cuaca buruk di AS menyebabkan beberapa ketidakpastian tentang produksi minyaknya dan itu selalu menjadi kabar baik untuk harga," kata Kepala Pasar Minyak Rystad Energy Bjornar Tonhaugen.

Selain itu, permintaan minyak juga diramal menurun. Badan Energi Internasional (Energy Information Administration/EIA) turut memangkas prospek permintaan sekitar 200 ribu barel per hari (bph) menjadi 91,7 juta bph karena mempertimbangkan kecepatan pemulihan ekonomi global.

"Kami memperkirakan pemulihan dalam permintaan minyak melambat secara nyata pada paruh kedua 2020, bersama sebagian besar keuntungan mudah yang telah dicapai," kata IEA dalam laporan bulanannya.

IEA mencatat stok minyak komersial di negara-negara maju mencapai level tertinggi sepanjang masa, yakni 3,225 miliar barel pada Juli 2020. IEA memberi sinyal para negara akan melakukan pemangkasan perkiraan stok pada paruh kedua tahun ini.

Lebih lanjut, pemangkasan prospek permintaan minyak dari IEA sejalan dengan perkiraan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC) yang telah menurunkan prospek lebih dulu. OPEC memperkirakan permintaan minyak dunia akan turun 9,46 juta bph pada tahun ini.

Jumlah ini meningkat dari proyeksi bulan sebelumnya sekitar 9,06 juta bph. Kendati begitu, pertemuan OPEC ditambah Rusia atau dikenal dengan OPEC+ diperkirakan tidak akan membuat rekomendasi pengurangan produksi lagi yang lebih dalam.

Kabarnya, pertemuan OPEC+ pada 17 September nanti akan lebih banyak membahas soal mekanisme kepatuhan dan kompensasi untuk pemotongan produksi yang sudah dilakukan. Sebelumnya, perusahaan minyak asal Inggris, BP juga memperkirakan puncak permintaan minyak terhenti pada 2019 dan tidak terjadi lagi pada tahun ini.

Di sisi lain, tingkat produksi minyak China justru mencapai level tertinggi kedua dalam catatan pada Agustus 2020. Hal ini terjadi karena kilang-kilang bekerja untuk mengolah rekor impor minyak pada awal tahun ini.

Di Amerika Serikat, data American Petroleum Institute mencatat persediaan minyak mentah turun 9,5 juta barel menjadi sekitar 494,6 juta barel per 11 September 2020. Namun, analis memperkirakan persediaan minyak akan naik lagi sekitar 1,3 juta barel. 

[Gambas:Video CNN]



(uli/age)