Bahlil-Erick Kejar Investasi Baterai Mobil Listrik ke Korsel

sfr, CNN Indonesia | Senin, 28/09/2020 13:04 WIB
Pemerintah berupaya menjemput bola investasi dari pengusaha Korsel, terutama pada industri hilirisasi seperti baterai kendaraan listrik. Pemerintah berupaya menjemput bola investasi dari pengusaha Korsel, terutama pada industri hilirisasi seperti baterai kendaraan listrik. (CNN Indonesia/Aria Ananda).
Jakarta, CNN Indonesia --

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia dan Menteri BUMN Erick Thohir berusaha menarik investor Korea Selatan (Korsel) untuk terus berinvestasi di Indonesia, khususnya pada industri hilirisasi. Salah satunya, baterai kendaraan listrik.

"Untuk mendorong realisasi investasi, kami bersama Menteri BUMN (Erick Thohir) ke Korea Selatan untuk membahas hilirisasi EV (Electric Vehicle) battery," ujar Bahlil dalam keterangan resmi, dikutip Senin (28/9).

Kedua anak buah Presiden Joko Widodo (Jokowi) ini berkunjung ke negeri ginseng pada 23 - 24 September 2020. Kunjungan itu dilakukan dalam rangka menindaklanjuti sejumlah rencana investasi perusahaan asal Korsel di Indonesia.


Minat investor Korsel tercermin dari data realisasi investasi kuartal II 2020 yang mencapai US$552,6 juta atau melonjak sebesar 340 persen dari total investasi kuartal I 2020, sebesar US$130,4 juta. Oleh karena itu, Indonesia perlu menunjukkan keseriusan dalam menjemput investor dari Korea.

"Ini sinyal positif. Indonesia masih dilirik oleh investor di tengah pandemi covid-19. Jadi kami harus serius memfasilitasi sampai jadi. Sesuai arahan Presiden, investasi yang kita dorong adalah yang mendukung transformasi ekonomi, ada nilai tambah dan tentu juga investasi padat karya. Indonesia butuh lapangan kerja dan investasi solusinya," ucap Bahlil.

Jika dilihat berdasarkan semester I 2020, realisasi investasi dari Korsel meningkat sebesar 25 persen dengan total sebesar US$683 juta, dibandingkan periode yang sama tahun lalu, US$548,4 juta.

Dalam keterangan resmi yang sama, Erick menyampaikan pemerintah terus agresif untuk mendatangkan investasi meski di tengah pandemi covid-19.

"Keberangkatan kami ke Korea Selatan ini karena memang ada minat serius dari beberapa perusahaan Korea. Artinya Indonesia memiliki daya tarik dan kami tindaklanjuti itu," ujar Erick.

Sejak 2015, Korsel menjadi negara asal investasi terbesar ke-7 di Indonesia, setelah Singapura, Jepang, Tiongkok, Hongkong, Malaysia, dan Belanda. Korea Selatan membukukan total investasi mencapai US$7,7 miliar.

Berdasarkan data yang ada di Pusat Komando Operasi dan Pengawalan Investasi (Pusat KOPI) BKPM, investasi dari Korsel pada periode 2016 sampai semester I 2020 didominasi oleh sektor Listrik, Gas, dan Air (US$944,3 juta); Industri Mesin, Elektronik, Instrumen Medis, Peralatan Listrik, Presisi, Optik, dan Jam Tangan (US$902,5 juta); Industri Kimia dan Farmasi (US$749,6 juta); Industri Barang Kulit dan Alas Kaki (US$552,0 juta); dan Industri Lainnya (US$528,7 juta).

Berdasarkan lokasi, investasi Korea Selatan mayoritas berada di Jawa (US$4,5 miliar). Kemudian disusul oleh Kalimantan (US$1,0 miliar), Sumatera (US$372,4 juta), Papua (US$246,8 juta), dan Maluku (US$226,3 juta).

[Gambas:Video CNN]



(sfr/agt)