Inggris Revisi Laju Ekonomi Kuartal II Jadi Minus 19,8 Persen

afp, CNN Indonesia | Kamis, 01/10/2020 06:54 WIB
Inggris merevisi ke atas angka pertumbuhan ekonomi kuartal II 2020 dari minus 20,4 persen menjadi minus 19,8 persen. Inggris merevisi ke atas angka pertumbuhan ekonomi kuartal II 2020 dari minus 20,4 persen menjadi minus 19,8 persen. Ilustrasi. (Justin TALLIS / AFP).
Jakarta, CNN Indonesia --

Inggris merevisi pertumbuhan ekonomi menjadi minus 19,8 persen pada kuartal II 2020. Angka minus itu lebih baik dari rilis yang disampaikan Agustus lalu yakni kontraksi 20,4 persen.

"Produk domestik bruto (PDB) Inggris diperkirakan mengalami kontraksi sebesar 19,8 persen pada kuartal II 2020, direvisi dari perkiraan awal turun 20,4 persen," ujar Kantor Statistik Nasional Inggris dalam sebuah pernyataan, dikutip dari AFP, Rabu (30/9).

Meski direvisi, Inggris tetap jatuh ke dalam jurang resesi ekonomi akibat covid-19. Pada periode Januari-Maret, pertumbuhan ekonomi Inggris mengalami kontraksi 2,5 persen. Inggris menganut definisi resesi ekonomi yakni pertumbuhan ekonomi negatif dalam dua kuartal berturut-turut.


"Jelas bahwa Inggris berada dalam rekor resesi terbesar," imbuh Kantor Statistik Nasional Inggris.

Untuk diketahui, Inggris merupakan salah satu negara yang mengalami resesi ekonomi. Sejumlah negara sudah terlebih dahulu terperosok ke dalam resesi ekonomi.

Misalnya, Amerika Serikat resmi masuk ke dalam jurang resesi pada akhir Juli lalu setelah ekonomi negeri tersebut minus 5 persen pada kuartal I 2020 dan minus 32,9 persen pada kuartal II 2020.

Selanjutnya, Jerman setelah pertumbuhan ekonomi mereka minus 10,1 persen pada kuartal II 2020 dan minus 2,2 persen pada kuartal I 2020. Tak hanya Jerman, Korea Selatan juga mengalami pertumbuhan ekonomi negatif dua kuartal berturut-turut pada tahun ini. Negeri K-Pop tumbuh minus 1,3 persen pada kuartal I 2020 dan minus 3,3 persen pada kuartal II 2020.

[Gambas:Video CNN]

Singapura juga berada di jurang resesi pada kuartal II 2020. Ekonomi Negeri Singa turun 12 persen pada kuartal II 2020 setelah tumbuh minus 0,7 persen pada kuartal I 2020.

Indonesia sendiri dipastikan tidak lepas dari resesi ekonomi. Menteri Keuangan Sri Mulyani memprediksi kontraksi ekonomi di kuartal III di kisaran minus 1 persen sampai minus 2,9 persen. Ia juga merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini dari minus 0,2 persen hingga 1,1 persen menjadi lebih dalam yakni minus 0,6 persen hingga 1,7 persen.

"Ini artinya, negatif kemungkinan terjadi pada kuartal ketiga dan berlangsung pada kuartal keempat yang kita masih upayakan (pertumbuhannya) mendekati nol," ujar Ani, sapaan akrabnya.

(sfr)