Pantauan BPS, Orang Kaya Masih Enggan Belanja karena Corona

CNN Indonesia | Kamis, 15/10/2020 14:53 WIB
BPS mengatakan masyarakat kelas menengah ke atas hingga kini masih mengerem belanja karena ketidakpastian ekonomi akibat corona. BPS mengatakan masyarakat kelas menengah ke atas masih menahan konsumsinya saat ini.(CNNIndonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Pusat Statistik (BPS) mengatakan masyarakat kelas menengah ke atas masih menahan konsumsi saat ini. Pasalnya, situasi ketidakpastian masih tinggi karena pandemi covid-19.

"Jika dilihat sekarang ini irama konsumsi di level menengah atas agak ditahan," ungkap Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers secara virtual, Kamis (15/10).

Sebaliknya, daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah masih lemah. Artinya, kemampuan mereka untuk belanja terbilang rendah.


"Sementara, (masyarakat kelas) bawah itu deflasi, menunjukkan pelemahan daya beli," imbuh Suhariyanto.

Ia mengaku belum bisa memprediksi situasi ini akan terjadi. Hal yang pasti, keinginan dan kemampuan masyarakat untuk berbelanja akan tumbuh jika penanganan covid-19 berhasil dilakukan.

"Masalah penanganan kesehatan dan vaksin bisa menjadi pengaruh besar," tutur Suhariyanto.

Jika kemampuan dan keinginan masyarakat untuk konsumsi tumbuh, maka biasanya terjadi kenaikan impor. Terlebih, nilai impor biasanya naik jelang Desember sebagai persiapan stok akhir tahun.

"(Tahun ini) saya tidak bisa memastikan karena serba tidak pasti. Apakah nanti surplus akan naik, saya tidak bisa memastikan," kata Suhariyanto.

Sebagai informasi, neraca perdagangan tercatat surplus sebesar US$2,44 miliar secara bulanan pada September 2020 di tengah pandemi virus corona (covid-19). Realisasi tersebut lebih tinggi dari surplus Agustus 2020 yang sebesar US$2,35 miliar.

Surplus neraca perdagangan terjadi karena nilai ekspor mencapai US$14,01 miliar atau naik 6,97 persen dari Agustus 2020 yang sebesar US$13,1 miliar. Sementara nilai impor hanya mencapai US$11,57 miliar atau naik 23,5 persen dari bulan sebelumnya.

Kendati begitu, nilai ekspor dan impor sama terlihat turun jika dihitung secara tahunan (year on year/yoy). Bila dirinci, ekspor September 2020 turun 0,51 persen dari US$14,08 miliar menjadi US$14.01 miliar secara tahunan.

Sementara, penurunan impor jauh lebih dalam jika dilihat secara tahunan, yakni mencapai 18,88 persen. Detailnya, impor pada September 2019 sebesar US$14,26 miliar dan September 2020 sebesar US$11,57 miliar.

(aud/age)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK