Harga Pangan Naik, BI Proyeksi Inflasi Oktober 0,08 Persen

CNN Indonesia | Jumat, 23/10/2020 17:41 WIB
Survei Bank Indonesia (BI) memperkirakan inflasi 0,08 persen pada Oktober 2020. Inflasi terjadi karena kenaikan harga pangan, salah satunya cabai merah. Survei Bank Indonesia (BI) memperkirakan inflasi 0,08 persen pada Oktober 2020. Inflasi terjadi karena kenaikan harga pangan, salah satunya cabai merah. Ilustrasi. (CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia --

Hasil survei pemantauan Indeks Harga Konsumen (IHK) Bank Indonesia (BI) pekan keempat bulan ini mencatat potensi kenaikan harga alias inflasi sebesar 0,08 persen secara bulanan pada Oktober 2020. Kenaikan harga terjadi di aneka komoditas pangan.

Direktur Eksekutif sekaligus Kepala Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko menyatakan kenaikan harga pangan terjadi di komoditas cabai merah sekitar 0,09 persen. Begitu juga dengan harga bawang merah naik 0,03 persen secara bulanan.

"Minyak goreng dan daging ayam ras masing-masing sebesar 0,01 persen," ungkap Onny dalam keterangan resmi, Jumat (23/10).


Sementara komoditas yang menyumbang deflasi alias penurunan harga, yaitu telur ayam ras sekitar 0,04 persen. Penurunan harga juga terjadi di beras dan emas perhiasan, masing-masing 0,01 persen.

"Dengan perkembangan tersebut, perkiraan inflasi Oktober 2020 secara tahun kalender sebesar 0,97 persen dan secara tahunan sebesar 1,46 persen," katanya.

Gubernur BI Perry Warjiyo meramalkan inflasi Indonesia akan berada di bawah 2 persen pada tahun ini. Kondisi ini berada di bawah target inflasi sebesar 3 persen plus minus 1 persen.

Survei BI ini menunjukkan pembalikan dari kondisi pergerakan IHK dalam beberapa waktu terakhir, di mana IHK mencatatkan deflasi pada tiga bulan berturut-turut pada Juli-September 2020.

[Gambas:Video CNN]

Deflasi terjadi sebesar 0,1 persen pada Juli, 0,05 persen pada Agustus, dan 0,05 persen pada September 2020. Kepala BPS Suhariyanto mengatakan deflasi berturut-turut menandakan daya beli masyarakat masih lemah di tengah tekanan ekonomi akibat pandemi virus corona atau covid-19.

"Ini menunjukkan daya beli kita masih sangat-sangat lemah. Selama kuartal III 2020, daya beli masih lemah. Bahkan, inflasi April-Mei yang ada Ramadan dan Idul Fitri lemah," pungkasnya.

(uli/sfr)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK