Meski Resesi, BPS Pastikan Ekonomi RI Mulai Membaik

CNN Indonesia | Kamis, 05/11/2020 14:13 WIB
BPS menyatakan ekonomi RI yang sempat tertekan oleh virus corona mulai membaik meskipun saat ini Indonesia sudah terperosok ke jurang resesi ekonomi. BPS menyatakan ekonomi RI mulai pulih dari tekanan corona meskipun saat ini sedang terjerat resesi. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTA).
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Pusat Statistik (BPS) mengatakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal III 2020 mulai membaik dibandingkan kuartal II 2020. Meskipun, secara tahunan (year on year/yoy) atau dibandingkan kuartal III 2019 masih mengalami kontraksi minus 3,49 persen.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan secara kuartal (quartal to quartal/q-to-q), ekonomi Indonesia berhasil tumbuh positif 5,05 persen. Kondisi ini berbanding terbalik dari kuartal II 2020 lalu, yang tercatat kontraksi minus 4,19 persen (qtq).

"Kembali, ini menunjukkan perbaikan dan arahnya sangat positif. Kami berharap bahwa kuartal IV 2020 situasinya akan menjadi lebih baik," ujarnya dalam paparan Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III 2020, Kamis (5/11).


Ia mengungkapkan dilihat menurut lapangan usaha, semua sektor sudah tumbuh positif pada Juli-September. Kondisi ini berbanding terbalik dari periode April-Juni yang mayoritas mengalami kontraksi.

Tercatat, sektor transportasi dan pergudangan tumbuh paling tinggi (qtq) yakni 24,28 persen. Pada kuartal II lalu, sektor ini jatuh paling dalam minus 29,18 persen.

"Kenaikan ini dipicu tambahan perjalanan armada transportasi karena pelonggaran PSBB," ucapnya.

Kondisi serupa juga tampak dari sektor akomodasi, makanan, dan minuman yang menguat sebesar 14,79 persen (qtq). Tiga bulan sebelumnya, sektor ini jatuh minus 22,31 persen.

[Gambas:Video CNN]

"Ini juga terjadi karena didorong pelonggaran PSBB sehingga ada peningkatan okupansi hotel, restoran, dan minuman mulai gerak," jelas.

Capaian serupa juga tampak jika PDB dilihat dari pengeluaran. Dari 6 komponen pengeluaran, sebanyak 5 komponen sudah tumbuh positif secara kuartal.

Pertumbuhan paling tinggi adalah komponen konsumsi pemerintah sebesar 16,93 persen karena didorong realisasi belanja APBN. Namun, kenaikan itu melambat dari sebelumnya yakni 22,33 persen.

Sementara itu, konsumsi rumah tangga tumbuh positif 4,70 persen (qtq) dari sebelumnya minus 6,53 persen. Lalu, ekspor juga perlahan pulih menjadi tumbuh 12,14 persen (qtq) dari sebelumnya minus 12,83 persen.

Hanya impor yang tampak masih lesu yakni minus 0,08 persen. Namun, membaik dari sebelumnya minus 14,18 persen.

"Jadi, secara q-to-q ekonomi tumbuh 5,05 persen, dibandingkan kuartal II 2020. Ini menunjukkan arah positif, seluruh lapangan usaha bergerak positif dan dari sisi pengeluaran juga gerak positif kecuali untuk komponen impor," jelasnya.

Produksi dan Penjualan Kendaraan Meningkat

Selain itu, ia menuturkan produksi mobil pada kuartal III 2020 mencapai 113.563 unit. Angka itu berhasil naik 172,78 persen secara kuartal (qtq), namun masih turun secara tahunan sebesar 68,47 persen (yoy).

Sedangkan, penjualan mobil secara wholesale atau penjualan sampai tingkat dealer pada mencapai 111.114 unit pada kuartal III 2020. Serupa, angka penjualan mobil berhasil naik 362,17 persen dari kuartal lalu (qtq), namun masih turun sebesar 59,30 persen dari tahun lalu(yoy).

Sementara itu, penjualan sepeda motor secara wholesale mencapai 911.865 unit. Angka itu naik 190,75 persen dari kuartal lalu (qtq), namun masih turun 46,14 persen dari kuartal III 2019(yoy).

(ulf/agt)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK