Singapura Masih Resesi, Ekonomi Kuartal III Minus 5,8 Persen

CNN Indonesia | Senin, 23/11/2020 12:15 WIB
Singapura mencatat pertumbuhan ekonomi kuartal III minus 5,8 persen. Negeri jiran itu masih di jurang resesi sejak kuartal II 2020. Singapura mencatat pertumbuhan ekonomi kuartal III minus 5,8 persen. Negeri jiran itu masih di jurang resesi sejak kuartal II 2020. Ilustrasi. (AFP/Roslan Rahman).
Jakarta, CNN Indonesia --

Ekonomi Singapura terkontraksi hingga minus 5,8 persen pada kuartal III 2020. Itu berarti, Singapura masih berada dalam fase resesi ekonomi. Hal ini diungkapkan oleh Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura atau Ministry of Trade and Industry (MTI) pada Senin (23/11).

Mengutip makexpress.co.uk, realisasi pertumbuhan ekonomi Singapura lebih baik dari prediksi awal. Ekonomi negeri jiran itu sebelumnya diperkirakan menyusut 7 persen pada kuartal III 2020.

Pemerintah Singapura kini sedang mengantisipasi kontraksi ekonomi antara 6 persen-6,5 persen pada 2020. Rentang itu lebih sempit ketimbang prediksi sebelumnya yang sebesar 5 persen-7 persen.


Ekonom dari DBS mengatakan ekonomi Singapura kini sedang membaik. Hal ini sejalan dengan pengelolaan wabah covid-19 di negara tersebut.

Kontraksi ekonomi di Singapura terjadi karena ada pembatasan aktivitas sepanjang kuartal II 2020 lalu. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir angka penularan virus corona.

Sejumlah ekonom DBS memperkirakan ekonomi Singapura terkontraksi sebesar 6 persen tahun ini. Lalu, ekonomi negara itu diproyeksi mulai bangkit tahun depan menuju 5,5 persen.

Sebagai informasi, ekonomi Singapura sudah masuk ke jurang resesi sejak kuartal II 2020. Sebab, ekonomi negara tersebut sudah minus sejak kuartal I 2020.

Rinciannya, ekonomi Singapura pada kuartal I 2020 minus 0,7 persen, kuartal II 2020 minus 42,9 persen, dan kuartal III 2020 minus 5,8 persen. Ini berarti Singapura belum keluar keluar dari zona resesi.

[Gambas:Video CNN]



(aud/bir)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK