Minyak Menguat Lebih dari 7 Persen pada Pekan Lalu

hrf, CNN Indonesia | Senin, 30/11/2020 07:41 WIB
Harga minyak dunia perkasa pada sepanjang pekan lalu dengan menguat di atas 7 persen akibat tertopang arapan pasar atas vaksin corona. Minyak dunia menguat lebih dari 7 persen pada sepekan kemarin. Ilustrasi. (iStock/ozgurdonmaz).
Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak ditutup bervariasi pada akhir perdagangan Jumat (27/11), tetapi membukukan kenaikan mingguan untuk empat pekan berturut-turut menjelang pertemuan OPEC+ awal pekan ini.

Mengutip Antara Senin (30/11), minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Januari naik 38 sen menjadi US$48,18 per barel, sedangkan kontrak Februari yang lebih aktif naik 46 sen menjadi US$48,25 per barel.

Sementara itu, harga minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari berkurang 18 sen menjadi menetap di US$45,53 per barel. Brent naik 7,2 persen selama seminggu, sementara WTI naik 8 persen sepanjang pekan lalu.


Penguatan harga minyak ditopang oleh kabar perkembangan menggembirakan tentang vaksin covid-19 dari AstraZeneca.

Meski demikian, keraguan atas vaksin AstraZeneca mencuat dari beberapa ilmuwan yang menyuarakan kehati-hatian atas hasil uji coba vaksin tersebut.

"Sementara peluncuran vaksin yang berhasil akan memutuskan hubungan antara infeksi dan mobilitas, bahkan permintaan minyak global kemungkinan hanya akan mencapai tingkat pra-pandemi pada pertengahan 2022," kata JP Morgan.

Di sisi lain, dalam pertemuan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya termasuk Rusia (OPEC+) awal pekan ini cenderung menunda peningkatan produksi minyak yang direncanakan tahun depan.

[Gambas:Video CNN]

OPEC+ berencana untuk meningkatkan produksi sebesar dua juta barel per hari (bph) pada Januari atau sekitar dua persen dari konsumsi global setelah sebelumnya mereka mencatat rekor pemotongan pasokan tahun ini.

"Pasar memperkirakan harga akan mengalami kenaikan terbatas jika OPEC+ benar-benar melakukan apa yang diharapkan dan mengubah rute yang direncanakan, menunda peningkatan pasokan yang direncanakan mulai Januari," kata Bjornar Tonhaugen, kepala pasar minyak Rystad Energy

Sebelumnya Panel OPEC+ mengadakan pembicaraan daring informal pada Minggu (29/11) atau sehari lebih lambat dari yang dijadwalkan.

Di luar hal tersebut, penyebab lain yang mempengaruhi harga minyak adalah produksi Libya yang meningkat. Anggota OPEC yang dibebaskan dari pemotongan minyak tersebut telah menambah lebih dari 1,1 juta barel per hari produksi sejak awal September.

(agt)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK