EDUKASI KEUANGAN

Tip Susun Portofolio Investasi Ciamik di Tahun Kerbau Logam

Wella Andany, CNN Indonesia | Sabtu, 02/01/2021 08:30 WIB
Perencana keuangan menyarankan investor mulai menyusun ulang portofolio investasi dengan memerhatikan beberapa hal. Berikut tipnya. Perencana keuangan menyarankan investor mulai menyusun ulang portofolio investasi dengan memerhatikan beberapa hal. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia --

Tahun baru, ada baiknya investasi baru. Minimal, menyusun ulang portofolio investasi Anda dan menyesuaikan dengan kondisi terkini.

Tujuannya, tentu demi menggemukkan cuan, mempertebal pundi-pundi.

Lalu, apa saja yang perlu diperhatikan kala menyusun ulang portofolio investasi? Dan, instrumen apa saja yang menarik di tahun kerbau logam?


Berikut tip dan trik berinvestasi yang dirangkum CNNIndonesia.com.

  • Pelajari Variabel yang Memengaruhi Iklim Investasi

Ketua Asosiasi Perencana Keuangan Internasional Indonesia (International Association of Register Financial Consultant/IARFC) Indonesia Aidil Akbar Madjid menyebut sebelum sibuk melirik sana-sini, calon investor harus lebih dulu memahami faktor-faktor yang bakal memengaruhi iklim investasi.

Misalnya saja, unsur makro dan mikro ekonomi. Dalam berinvestasi, kedua faktor tersebut tidak dapat dilepas dari susunan portofolio Anda. Memang, tak semuanya bisa diprediksi dari awal, namun jika membekali diri dengan informasi yang memadai, risiko investasi dapat diminimalisir dan dimitigasi dari awal.

Untuk 2021 contohnya, sentimen yang masih akan mewarnai iklim investasi adalah vaksinasi covid-19 dan kebijakan baik fiskal maupun moneter suatu negara dalam menanggulangi pandemi covid-19.

Sehingga, dengan mengetahui apa saja efek dari kebijakan yang mungkin dikeluarkan sepanjang 2021, Anda dapat menentukan arah investasi yang tepat.

  • Pastikan Anda Memiliki Fondasi yang Kuat

Mungkin banyak investor yang sudah bosan mendengar saran untuk mengamankan dana darurat atau emergency fund. Namun, jangan sepelekan ilmu dasar dalam menata keuangan tersebut.

Menurut Aidil, salah satu faktor yang menentukan keberhasilan investasi adalah fondasi yang dirancang sejak awal. Pastikan Anda memegang aset likuid yang cukup sebagai buffer atau penyangga jika return investasi tak seperti yang diharapkan.

Dana darurat bisa disesuaikan dengan kemampuan finansial Anda, normalnya nominal berkisar di antara 3-6 bulan dari pengeluaran bulanan Anda. Jika belum memiliki emergency fund, disarankan untuk tak membelanjakan tabungan Anda di instrumen investasi.

Terlebih, di tahun ini volatilitas pasar begitu tinggi, untuk kuartal pertama hingga kedua, Aidil memprediksikan rata-rata instrumen investasi masih akan diwarnai ketidakpastian. Sehingga, Anda tidak perlu terburu-buru.

"Untuk pemula, saran saya jangan gegabah dan buru-buru, take your time, karena 2021 pasar masih akan volatile. Balik lagi ke dasar, siapin dana darurat, siapin asuransi, siapin financial goal dan investment jangka panjang, itu dulu," imbuh Aidil kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (2/1).

[Gambas:Video CNN]

  • Perbanyak Investasi Instrumen Likuid

Untuk 2021, baik Aidil maupun Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra merekomendasikan untuk memarkirkan dana di instrumen likuid atau yang bisa dicairkan kapan saja saat dibutuhkan.

Membeli emas masih disarankan setidaknya untuk satu hingga dua kuartal pertama 2021. Ariston mengatakan investor masih akan cenderung memantau perkembangan vaksinasi covid-19 dan belum akan menarik dananya dari safe haven.

Menyuntikkan vaksin kepada 70 persen masyarakat Indonesia atau sekitar 180 jutaan orang bukan perkara mudah dan membutuhkan waktu yang relatif panjang.

Sehingga, sebelum investor yakin ekonomi akan pulih, dananya masih akan dititipkan dalam bentuk pembelian emas. Apalagi, kalau penambahan kasus covid-19 tak juga berhasil ditekan, bisa-bisa makin banyak dana yang diparkirkan di instrumen aman.

Meski Ariston memproyeksikan harga emas masih akan mampu bertengger di level US$2.000 per tray ons, tetapi ia juga mengingatkan kemungkinan vaksinasi mampu memulihkan pertumbuhan ekonomi.

Jika ekonomi pulih, otomatis investor akan mengambil risiko dengan menarik dana dari safe haven ke instrumen yang lebih berisiko, namun memiliki imbal hasil (yield) tinggi seperti pasar modal.

"Banyak institusi seperti World Bank dan IMF menyebut tahun ini tahun pemulihan ekonomi, ada potensi pertumbuhan PDB 5 persen. Jadi, kalau pandemi terkendali (pelaku pasar) biasanya beralih ke pasar yang menghasilkan yield lebih tinggi," katanya.

Selain emas, instrumen likuid lainnya yang dapat dijadikan pilihan adalah reksa dana dan obligasi.

  • Susun Portofolio Investasi Jangka Panjang

Jika seluruh pos keuangan sudah aman dan Anda masih memiliki uang 'senggang', Aidil menyarankan untuk mulai menyusun portofolio jangka panjang atau investasi di atas 3 tahun.

Dia menilai untuk saat ini, investasi properti bisa dijadikan pilihan. Pasalnya, saat ini sektor properti masih lesu atau cenderung stagnan hingga 1-2 tahun ke depan. Di saat harga properti relatif murah, bisa jadi Anda mendapatkan deal terbaik yang di saat normal harga tersebut tidak bisa didapatkan.

Catatannya, uang tersebut adalah uang yang tidak terpakai dalam jangka panjang, mengingat properti yang diinvestasikan mungkin baru bisa terjual kala daya beli sudah membaik.

Direktur Eksekutif Jakarta Property Institute (JPI) Wendy Haryanto menyebut permintaan single housing atau apartemen untuk kelas menengah dan menengah ke bawah akan tetap diminati.

Sepanjang 2021 masih banyak pekerja yang bekerja dari rumah (work from home), sehingga permintaan akan tempat tinggal murah di pinggiran kota masih akan mencetak penjualan.

"Investasi properti menguntungkan kalau dilihat sebagai investasi jangka panjang," jelas Wendy.

Lebih lanjut, Aidil menyebut meski memiliki volatilitas yang cukup tinggi tahun ini, namun prospek pasar modal untuk jangka panjang relatif baik.

Sepanjang tahun ini, sekalipun terkoreksi, ia memproyeksikan indeks tak akan terpaut jauh dari level 5.000-6.000. Untuk jangka panjang, saham-saham yang dibeli saat ini berpotensi mencetak capital gain di masa mendatang.

(bir)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK