Potensi Permintaan Turun, Harga Minyak Merosot ke US$56

CNN Indonesia | Kamis, 14/01/2021 07:58 WIB
Harga minyak mentah dunia merosot ke US$52,91-US$56,06 per barel karena kekhawatiran pasar terhadap permintaan bahan bakar menurun. Harga minyak mentah dunia merosot ke US$52,91-US$56,06 per barel karena kekhawatiran pasar terhadap permintaan bahan bakar menurun. Ilustrasi kilang minyak. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak mentah dunia turun pada perdagangan Rabu (13/1) waktu Amerika Serikat (AS). Hal ini terjadi lantaran pasar khawatir permintaan minyak kembali melambat karena kenaikan kasus penularan covid-19.

Mengutip Antara, Kamis (14/1), harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Maret turun 52 sen atau 0,9 persen ke level US$56,06 per barel.

Kemudian, minyak mentah berjangka west texas intermediate (WTI) turun 30 sen atau 0,6 persen ke level US$52,91 per barel.


Permintaan bahan bakar sebenarnya mulai pulih saat ini jika dibandingkan dengan beberapa bulan sebelumnya. Namun, pembatasan perjalanan yang dilakukan sejumlah negara berpotensi menahan permintaan energi selama berbulan-bulan.

"Sementara, saya melihat harga minyak mentah diperdagangkan lebih tinggi selama beberapa bulan mendatang. Investor perlu hati-hati bahwa jalan menuju permintaan minyak yang lebih tinggi dan harga akan tetap bergejolak," ucap Analis Minyak UBS Giovanni Staunovo.

Sementara, persediaan minyak mentah AS lebih rendah untuk minggu kelima berturut-turut. Jumlahnya turun 3,2 juta barel pada pekan lalu.

Penurunan itu lebih tinggi dari ekspektasi analis yang memperkirakan hanya merosot 2,3 juta barel.

"Pabrik-pabrik penyulingan melihat gambaran permintaan yang lebih baik dan itu tercermin tidak hanya dari apa yang kami lihat di AS tapi juga di luar negeri," kata Analis Senior di Price Futures Group di Chicago.

Sebelumnya, harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Maret naik 92 sen atau 1,7 persen ke level US$56,58 per barel. Sementara, minyak mentah berjangka WTI naik 96 sen atau 1,8 persen ke level US$53,21 per barel.

[Gambas:Video CNN]



(aud/bir)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK