Pertamina Ramal Impor Bensin Tembus 113 Juta Barel Tahun Ini

CNN Indonesia | Selasa, 09/02/2021 13:38 WIB
Pertamina meramal impor bensin yang pada 2020 kemarin sempat turun karena corona kemungkinan besar akan naik 13,5 persen jadi 113 juta barel pada tahun ini. Pertamina meramal impor bensin pada tahun ini akan tembus 113 juta barel tahun ini. CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia --

PT Pertamina (Persero) memproyeksi impor gasoline (bensin) mencapai 113 juta barel. Angkanya naik 13,5 persen dari realisasi impor gasoline pada 2020 yang sebesar 97,8 juta barel.

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan menyatakan impor gasoline 88 ron (premium) diprediksi sebanyak 53,7 juta barel pada tahun ini. Lalu, impor gasoline 92 ron (pertamax) sebanyak 59,3 juta barel.

Nicke menjelaskan harga pengadaan impor gasoline mengikuti pergerakan harga gasoline di Singapura hub. Untuk tahun ini, manajemen memperkirakan harganya di level US$51 per barel.


Sementara, harga rata-rata impor gasoline 88 ron pada 2020 sebesar US$45,5 per barel. Lalu, untuk rata-rata harga gasoline 92 ron tahun lalu sebesar US$45,7 per barel.

Dari sisi pasar, penjualan gasoline akan dilakukan dengan dua skema. Penjualan dilakukan dengan penugasan pemerintah atau disebut dengan public service obligation (PSO) dan non PSO.

"Terkait impor gasoline, kami melihatnya PSO dan non PSO. Kami dorong PSO supaya semakin kecil, sehingga tidak jadi beban dan non PSO ditingkatkan," ucap Nicke dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VII DPR, Selasa (9/2).

[Gambas:Video CNN]

Sementara, Pertamina memproyeksi impor elpiji tahun ini sebanyak 7,2 juta metrik ton. Nantinya, harga impor akan mengikuti pergerakan harga di Timur Tengah atau CP Aramco dan tren freight cost.

Dalam Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP) 2021, Pertamina memproyeksi harga impor elpiji sebesar US$411 per metrik ton. Namun, harga yang ditetapkan pada Januari 2021 sebesar US$540 per metrik ton.

Selanjutnya, Pertamina memproyeksi impor minyak mentah (crude) pada tahun ini sebanyak 118,4 juta barel. Angkanya melonjak dari realisasi impor 2020 yang hanya sebanyak 78,7 juta barel.

"Terkait crude agar berbeda tahun ini. Kami berikan keleluasaan pada sub holding merumuskan crude mana yang menghasilkan kualitas yang baik dan yield terbaik," ujar Nicke.

Meski jumlah impor melonjak, tapi Nicke memastikan jumlahnya akan setara dengan volume minyak yang akan diekspor tahun ini. Dengan strategi ini, ia optimistis akan memperbaiki defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD).

"Ekspor dan impor ada selisih harga yang membantu memperbaiki CAD. Strategi ini kami lakukan mulai pertengahan tahun lalu dan memperbaiki CAD," jelas Nicke.

 

(aud/agt)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK