Wapres Jamin Pemerintah Tak Akan 'Sentuh' Wakaf Uang

CNN Indonesia | Kamis, 11/02/2021 19:36 WIB
Wapres Ma'ruf Amin menjamin pemerintah tidak akan mengambil dana wakaf uang untuk membiayai pembangunan. Wapres Ma'ruf Amin menjamin pemerintah tidak akan mengambil dana wakaf uang untuk membiayai pembangunan. (Dok. Istimewa Setwapres RI).
Jakarta, CNN Indonesia --

Wakil Presiden Ma'ruf Amin menjamin pemerintah tidak akan mengambil dana wakaf masyarakat lewat Gerakan Nasional Wakaf Uang (GNWU). Gerakan ini sejatinya hanya bertujuan untuk mendongrak minat wakaf uang di masyarakat yang hasilnya secara penuh untuk ekonomi umat, bukan pembangunan oleh pemerintah.

Sebelumnya, GNWU diluncurkan langsung oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Saat peluncuran, Jokowi mengajak masyarakat berwakaf karena potensinya masih besar di dalam negeri dan bisa menjadi langkah solidaritas untuk mengatasi kemiskinan dan ketimpangan.

Hal ini kemudian disalahpahami oleh masyarakat seolah-olah pemerintah sengaja menggenjot wakaf untuk pembangunan. Padahal, ia memastikan bahwa pemerintah hanya berusaha mendongkrak minat, bukan ingin mengelola atau mengambil dana wakaf.


"Pemerintah fasilitasi supaya gerakan wakaf menjadi besar, makanya ada GNWU, tapi bukan untuk pemerintah. Jadi tidak ada pemerintah untuk mengambil dana wakaf itu," kata Ma'ruf di acara Literasi Wakaf Uang secara virtual, Kamis (11/2).

Selain itu, Ma'ruf mengatakan pemerintah tidak mungkin menggunakan dana wakaf untuk pembangunan karena sumber-sumber dananya sudah terpetakan dengan jelas. Mulai dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), Surat Berharga Negara (SBN), hingga Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau Sukuk.

Bahkan, sekarang pemerintah juga membuat Lembaga Pengelola Investasi (LPI) untuk menarik investor agar mau mengalirkan dananya ke Indonesia.

"Pemerintah sudah ada mekanisme pendanaan dalam melakukan pembangunan. Jadi ini pemerintah hanya ingin bantu. Oleh karena itu, kita seharusnya berterima kasih kepada pemerintah, kepada presiden, karena mau fasilitasi ini," ungkapnya.

Lebih lanjut, Ma'ruf mengatakan GNWU hanya bertujuan untuk meningkatkan minat wakaf di masyarakat. Sebab, hasil survei menyatakan kesadaran dan pemahaman masyarakat untuk berwakaf masih rendah.

Padahal, potensi aliran dana wakaf di Indonesia besar, yaitu mencapai Rp180 triliun per tahun. Potensi ini, sambung dia, berasal dari populasi muslim yang besar di Indonesia.

Karenanya, perlu ada gerakan nasional yang mampu mendorong minat wakaf masyarakat. Di sisi lain, wakaf sejatinya sangat baik karena sesuai dengan ajaran Islam dan Rasulullah.

"Pada zaman Rasulullah, tidak ada orang yang tidak wakaf, makanya banyak yang dibangun dari dana wakaf. Kita ingin hidupkan kembali yang seperti itu, termasuk wakaf uang untuk penguatan umat," jelasnya.

Selain itu, GNWU juga bertujuan untuk mengarahkan agar dana wakaf masyarakat kian bervariasi dari yang sebelumnya lebih banyak dikenal sebagai 3M, yaitu untuk membangun masjid, madrasah, dan makam, menjadi bisa untuk apa saja.

Salah satunya, membangun Rumah Sakit Mata Achmad Wardi yang pelayanannya diberikan gratis kepada kaum dhuafa.

"Ini hanya diarahkan agar wakaf dikelola menjadi besar, investasinya di tempat aman, dan hasilnya dikembalikan ke masyarakat. Maka, perlu kita berhusnudzon (berprasangka baik) bahwa ini tetap untuk biayai umat dengan investasi yang jadi dana abadi yang dari tahun ke tahun akan menjadi lebih besar," tuturnya.

Sementara, Anggota Badan Wakaf Indonesia (BWI) Irfan Syauqi Beik menambahkan pentingnya berwakaf uang. Menurutnya, wakaf uang memiliki potensi dampak yang lebih besar ke perekonomian umat.

Saat ini wakaf terbagi menjadi dua, wakaf benda tidak bergerak dan bergerak. Untuk benda tidak bergerak, masyarakat mungkin sudah mengenal wakaf untuk membangun masjid, madrasah, hingga makam.

Sementara wakaf bergerak bisa berupa uang. Saat ini, wakaf uang terbagi menjadi beberapa instrumen, misalnya ada yang di keuangan, seperti SBSN, Cash Waqq Linked Sukuk (CWLS), dan lainnya.

Lalu, ada juga dalam bentuk sektor riil misalnya industri halal, industri peternakan untuk umat, dan lainnya. "Ini semua dikembangkan, tapi yang potensi efeknya besar adalah wakaf uang karena bisa terus dikembangkan, dikelola," terang Irfan pada kesempatan yang sama.

Khusus pengelolaan wakaf di BWI, Irfan memaparkan pengelolaannya terbagi menjadi tiga.

Pertama, deposito berupa Wakaf Peduli Indonesia dengan nilai Rp5,9 miliar dan Wakaf Uang ASN Kementerian Agama Rp4,37 miliar.

Kedua, CWLS terdiri dari seri SW0001 senilai Rp50,85 miliar dan SWR001 Rp14,91 miliar. Ketiga, sektor riil.

"Untuk yang CWLS, ke mana dananya ditempatkan? Ini untuk pengembangan Retina Center di RS Achmad Wardi, yield yang diperoleh disalurkan untuk layanan kesehatan dan pengadaan ambulans," pungkasnya.

[Gambas:Video CNN]



(uli/bir)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK