ANALISIS

Uang Digital Bank Sentral, Upaya BI Bendung Bitcoin

Hendra Friana, CNN Indonesia | Jumat, 26/02/2021 06:45 WIB
Ekonom menilai upaya penerbitan uang digital bank sentral merupakan suatu hal yang wajar di tengah kepopuleran uang kripto dan era yang kian terdigitalisasi. Ekonom menilai upaya penerbitan uang digital bank sentral merupakan suatu hal yang wajar di tengah kepopuleran uang kripto dan era yang kian terdigitalisasi. Ilustrasi. (Istockphoto/Ipopba).

Sementara itu, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah Redjalam masih mempertanyakan urgensi BI untuk menerbitkan mata uang digital. Sebab belum ada kejelasan seperti apa penerapan mata uang tersebut ke depannya.

"Saya melihat belum jelas BI akan mengeluarkan uang digital untuk mengantisipasi perkembangan uang kripto atau uang digital. Uang digitalnya bank sentral beda konsep dengan uang kripto," sebutnya.

Menurut Piter, penerbitan CBDC tidak tepat jika BI ingin mengantisipasi atau menahan laju perkembangan uang kripto. Sebab, menurutnya bank sentral tidak bisa mengadopsi mata uang kripto yang sifatnya desentralistik ke dalam CBDC.


"Central bank pasti sentralistik, sementara uang kripto jiwanya desentralistik. Uang digitalnya BI akan berhadapannya dengan uang digital yang sudah eksis sebagai alat pembayaran sekarang ini seperti OVO, Gopay dan sebagainya," ujar Piter.

Oleh karena itu, ia menyarankan BI sebaiknya tidak merespons peredaran mata uang kripto yang terus berkembang di dalam negeri. "BI sudah melarang uang kripto sebagai alat transaksi. Kenaikan uang kripto sebagai alternatif investasi biarkan saja. Kalau BI mau mengeluarkan digital money lebih untuk mendorong perkembangan uang digital dalam negeri saja," pungkas Piter.

Sebelumnya, Direktur Eksekutif sekaligus Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono mengatakan penerbitan uang digital tersebut mempertimbangkan manfaat efisiensi sistem pembayaran domestik dan keuangan inklusif serta memitigasi shadow banking.

[Gambas:Video CNN]

CBDC, menurutnya, juga akan menjadi simbol kedaulatan negara (sovereign currency) yang diterbitkan oleh bank sentral dan menjadi bagian dari kewajiban moneternya. BI sendiri masih terus melakukan kajian untuk melihat potensi dan manfaat uan digital bank sentral ke depan.

Kajian tersebut disesuaikan dengan perkembangan ekonomi Indonesia, begitu juga dengan desain dan mitigasi risiko uang digital tersebut. "BI juga berkoordinasi dengan bank sentral lain termasuk melalui forum internasional untuk bertukar pandangan terkait pendalaman CBDC," tutur Erwin.



(sfr)
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK