Wall Street Tendang Raksasa Minyak China CNOOC

Christine Novita Nababan, CNN Indonesia | Selasa, 02/03/2021 07:48 WIB
Wall Street menendang CNOOC, raksasa minyak asal China, dari bursa saham yang diperdagangkan, buntut ketegangan hubungan AS-China. Wall Street menendang CNOOC, raksasa minyak asal China, dari bursa saham yang diperdagangkan, buntut ketegangan hubungan AS-China. (AP/Colin Ziemer).
Jakarta, CNN Indonesia --

Wall Street menendang raksasa minyak China CNOOC, buntut ketegangan hubungan AS-China. Saham CNOOC dikabarkan akan berhenti diperdagangkan di bursa saham New York mulai 9 Maret mendatang.

Padahal, mengutip CNN Business, Selasa (2/3), saham perusahaan minyak terbesar ketiga di China tersebut sudah beberapa dekade melantai dan berdagang di Wall Street.

Otoritas Wall Street mengatakan aksi 'menendang' CNOOC keluar dari papan bursa sahamnya sebagai upaya mematuhi perintah yang diteken mantan presiden Donald Trump pada November 2020 lalu.


Perintah itu melarang orang Amerika berinvestasi di perusahaan-perusahaan yang dicurigai dimiliki dan dikendalikan oleh militer China.

Sebelum CNOOC, bursa saham Wall Street telah menendang tiga perusahaan China di sektor telekomunikasi, yakni China Mobile (CHL), China Telecom (CHA), dan China unicom (CHU).

Saham CNOOC telah diperdagangkan di New York sejak 2001 silam. Juru bicara perusahaan memperingatkan aksi delisting (menghapus dari papan bursa saham) akan mempengaruhi harga dan volume saham milik investor.

Saat keputusan itu mencuat pada Minggu (28/2), saham CNOOC yang juga terdaftar di Bursa Efek Hong Kong tercatat turun 1,1 persen pada pembukaan Senin (1/3).

Diketahui CNOOC memang menjadi sasaran pemerintahan Trump. Beberapa hari sebelum Trump lengser, Departemen Perdagangan AS menambahkan CNOOC ke daftar hitam perusahaan sebagai 'pengganggu'.

China telah berulang kali mengecam aksi AS tersebut. Pelaksanaan perintah Trump di era Presiden Joe Biden menunjukkan bahwa ketegangan AS dengan China masih akan berlangsung.

Apalagi, bulan lalu, Biden sempat menekankan bahwa ia akan tetap tegas terhadap China. Dalam panggilan telepon dengan Presiden China Xi Jinping, Biden mengaku prihatin dengan praktik ekonomi China yang memaksa dan tidak adil, termasuk juga tindakan represif di Hong Kong dan pelanggaran HAM di Xinjiang.

[Gambas:Video CNN]



(bir)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK