Pengusaha Ritel Tepis Isu Timbun Barang Jelang Ramadan

CNN Indonesia | Jumat, 05/03/2021 16:25 WIB
Aprindo membantah pihaknya menimbun barang makanan jelang Ramadan demi melambungkan harga. Aprindo membantah pihaknya menimbun barang makanan jelang Ramadan demi melambungkan harga. Ilustrasi bahan pokok. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia --

Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) membantah pihaknya menimbun barang makanan jelang Ramadan demi melambungkan harga.

Dalam rapat kerja membahas ketersediaan dan stabilisasi harga bahan pokok dengan Kementerian Pertanian dan Perdagangan, Ketua Umum Aprindo Roy N Mandey mengatakan praktik tersebut tidak memungkinkan dilakukan. Pasalnya, pengusaha memiliki gudang atau tempat penyimpanan yang terbatas.

Menurutnya, jauh sebelum hari raya menjelang, pengusaha telah menghitung kebutuhan dan kapasitas penampungan sebagai efisiensi. Memegang prinsip efektif dan efisien, serta menjual barang dengan aturan First In First Out (FIFO), ia mengklaim sistem yang ada tak memungkinkan peritel menimbun barang.


"Disangkakan peritel sering kali menimbun barang, bagaimana mungkin kami menimbun barang kalau gudang kami sangat terbatas?" ujarnya, Jumat (5/3).

Selain itu, ia menyebut peritel pun tak bisa mengambil cuan dengan bebas seperti di pasar tradisional karena harga mengacu pada kesepakatan awal atau harga tetap (fixed price).

Menjadi price leader atau pihak yang membentuk harga di pasar, ia mengatakan harga tidak bisa mengikuti situasi dan kondisi.

Mencontohkan harga gula, ia menyebut saat terjadi kelangkaan gula pasir pada tahun lalu, pihaknya tidak serta menjual harga di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) meski di pasar tradisional harga sudah melambung.

"Ketika sudah masuk kontrak di distribution centre, harga jual tetap di harga persetujuan," katanya.

Dalam kesempatan sama, ia mengatakan peritel mengalami pukulan cukup dalam pada tahun lalu akibat pandemi. Dari indeks rapor penjualan riil, hampir seluruh segmen kecuali mini market, mengalami kontraksi.

Secara umum, untuk industri Fast-Moving Consumer Goods (FMCG) terjadi kontraksi pertumbuhan sebesar 5,9 persen pada 2020.

Hyper dan supermarket mengalami kontraksi dalam minus 10,1 persen, lebih dalam dari 2019 yang juga tumbuh negatif sebesar 4,2 persen. Lalu, untuk pasar rakyat kontraksi dinyatakan sebesar 12,4 persen, anjlok dari pertumbuhan 2019 yakni 1,8 persen.

Meski bertumbuh positif, untuk mini market, pertumbuhan mengalami perlambatan dari 12,3 persen di 2019 menjadi 4,8 persen pada 2020.

[Gambas:Video CNN]



(wel/age)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK