ANALISIS

Karut Marut Impor Pangan Jelang Ramadan dan Idulfitri

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Jumat, 19/03/2021 08:14 WIB
Pemerintah kembali akan mengimpor sejumlah komoditas pangan jelang ramadan, mulai dari beras, daging, hingga garam. Pemerintah kembali akan mengimpor komoditas pangan pada tahun ini jelang Ramadan, mulai dari beras, daging, hingga garam.(ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho).
Jakarta, CNN Indonesia --

Pemerintah kembali akan mengimpor komoditas pangan pada tahun ini jelang ramadan yang akan berlangsung kurang dari sebulan lagi. Mulai dari beras, daging, hingga garam.

Rencananya, impor beras akan mencapai 1 juta ton. Sementara, daging 100 ribu ton dan garam 3 juta ton. Yang sudah paling pasti adalah daging, yaitu diambil dari 80 ribu daging kerbau dari India dan 20 ribu daging sapi dari Brasil.

Sedangkan impor garam sudah diputuskan sebanyak 3 ton. Untuk impor garam, pro-kontra tetap ada, tapi masih cukup 'adem' lantaran sudah jadi rahasia umum bila kebutuhan garam industri sulit dipenuhi oleh produksi lokal.


Tapi, untuk impor beras, seperti biasa, baru rencana pun sudah membuat gaduh. Sebab, banyak kalangan menilai impor tidak pas karena dilakukan jelang panen raya.

Saat pro-kontra muncul, para pihak terkait pun saling lempar-lemparan. Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso atau yang akrab disapa Buwas buru-buru mengklaim kalau ide impor bukan darinya, tapi pemerintah.

Tepatnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi saat rapat koordinasi.

"Data BPS menyampaikan Maret, April, Mei itu surplus. Itu yang kami jadikan pedoman. Sehingga saat kami rakortas (rapat koordinasi terbatas), kami tidak memutuskan impor. Hanya, kebijakan Pak Menko dan Pak Mendag, kami akhirnya dikasih penugasan tiba-tiba untuk melaksanakan impor," ujar Buwas, beberapa waktu lalu.

Kendati begitu, Lutfi mengklaim impor beras bukan semata-mata langsung dilepas ke pasar, tapi dipersiapkan untuk 'jaga-jaga' bila harga meningkat dan intervensi operasi pasar perlu dilakukan Bulog.

"Soal jumlah, harga, dan waktu (impor) itu ada di kantong saya. Saya akan pakai itu hanya pada saat-saat tertentu untuk mengintervensi pasar, yang biasanya kejadian itu adalah memastikan bahwa harga sesuai dengan harga internasional dan kemampuan masyarakat, artinya kalau harga naik terus masyarakat tidak mampu ya kami harus intervensi," jelas Lutfi.

Sementara Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan impor sejatinya baru rencana. Tapi, belum pasti kapan akan direalisasikan.

"Jujur, ingin saya katakan dalam forum ini bahwa rencana impor itu baru dalam wacana dan saya sama sekali belum melihat ada keputusan yang pasti terhadap itu," kata Syahrul.

Terlepas dari bagaimana latar belakang itu, intinya rencana impor pangan tetap ada dan banjir impor akan datang. Pengamat Pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Khudori menilai hal ini klasik.

"Banjir impor pangan bukan hal baru," ucap Khudori kepada CNNIndonesia.com.

Bila dilihat dari komoditasnya, Khudori melihat impor yang sah dilakukan seharusnya cuma daging dan garam. Untuk daging, meski seharusnya peternakan lokal bisa dikembangkan, tapi opsi impor masih mendapat 'toleransi' karena stok memang terbatas.

"Impor daging sapi ini boleh dikaitkan dengan (persiapan kebutuhan) ramadan. Daging sapi memang kebutuhan kita masih besar," ungkapnya.

Sama halnya dengan garam, kerannya masih boleh dibuka lantaran produksi lokal memang belum bisa memenuhi kebutuhan industri. Sementara sebagai bahan baku industri, garam punya peran yang cukup vital.

"Toh alokasi segitu (rencana 3 juta ton) untuk setahun," imbuhnya.

Meski, sambungnya, ada perasaan miris lantaran Indonesia punya potensi sumber daya alam yang besar dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia, tapi masih terus saja mengimpor garam. Hal ini terjadi karena kadar Natrium Clorida (NaCl) garam industri lebih tinggi dari garam lokal, yaitu mencapai 97 persen, sementara hasil produksi petani garam cuma berkisar 88-94 persen.

"Alasan klasik lain karena harga impor lebih murah. Tapi meski lokal lebih mahal, sebetulnya dampak ikutan sosial-ekonominya jauh lebih tinggi. Penyerapan produk lokal akan menggerakkan ekonomi di dalam negeri, menyerap produk impor dampaknya terbesar ada di negara asal impor saja," jelasnya.

Kisruh Impor Beras

Sedangkan untuk beras, ia merasa aneh bila akhirnya pintu impor tetap dibuka. Pasalnya, data yang dikantonginya mencatat ada potensi produksi yang meningkat sekitar 26,8 persen pada Januari-April 2021 dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

"Karena sekarang panen raya, produksi banyak. Mestinya, itu yang diserap, bukan dari impor," tuturnya.

Menurutnya, kesulitan penyerapan beras lokal oleh Bulog mungkin susah karena terikat ketentuan harga yang diatur pemerintah. Tapi mau tidak mau harus tetap dilakukan, toh produksinya memang banyak, maka tak pas bila justru mengakalinya dengan impor.

"Apapun alasannya, untuk saat ini karena panen raya dan potensi produksi naik tak tepat untuk impor sekarang. Woro-woro impor ke publik saat ini jelas tidak tepat. Meski belum dilakukan, harga-harga di pasar sudah turun. Ini menyakiti petani," katanya.

Hanya saja, Khudori melihat rencana impor ini jadi kisruh lantaran keburu bocor ke publik. Padahal mungkin bisa saja, kalau tidak bocor, impor memang belum akan dilakukan, baru izinnya saja yang keluar untuk berjaga-jaga.

[Gambas:Video CNN]



Impor Beras Efek Kebijakan Sembrono

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK