Freeport Dapat Rekomendasi Ekspor 2 Juta Konsentrat Tembaga

CNN Indonesia | Rabu, 24/03/2021 12:10 WIB
PT Freeport Indonesia mengantongi rekomendasi persetujuan ekspor baru sebanyak 2 juta konsentrat tembaga. Ini berlaku untuk 2021 hingga 2022 mendatang. Freeport Indonesia mengantongi persetujuan ekspor 2 juta ton konsentrat tembaga sampai 2022. Ilustrasi. (Dok. PT Freeport Indonesia).
Jakarta, CNN Indonesia --

PT Freeport Indonesia (PTFI) mengantongi rekomendasi persetujuan ekspor baru sebanyak 2 juta konsentrat tembaga. Ini berlaku untuk 2021 hingga 2022 mendatang.

Pemberian rekomendasi ini sejalan dengan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 46.K/MB.04/MEM.B/2021 tentang Pemberian Rekomendasi Penjualan ke Luar Negeri Mineral Logam pada Masa Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Aturan ini ditetapkan pada 12 Maret 2021 lalu.

"Kami menyambut baik bahwa pemerintah Indonesia telah mengeluarkan izin ekspor PTFI untuk satu tahun ke depan," ungkap Vice President Corporate Communication Freeport Indonesia Riza Pratama kepada CNNIndonesia.com, Rabu (24/3).


Riza menyatakan pihaknya akan berkomitmen untuk memberikan nilai tambah bagi Indonesia dengan berbagai cara. Salah satunya ekspor tembaga konsentrat.

Selain itu, manajemen juga akan kooperatif dengan pemerintah dalam merealisasikan target produksi dan kontribusi PTFI, seperti bea keluar ekspor.

Di sisi lain , ia mengakui kemajuan fisik pembangunan smelter PTFI tak mencapai target yang ditetapkan. Menurut Riza, perusahaan terkena dampak pandemi covid-19, sehingga berpengaruh terhadap proses pembangunan smelter.

"Seperti amanat dalam Keputusan Menteri ESDM yang baru dikeluarkan terkait denda, pemerintah dan PTFI tengah mendiskusikan aktivitas-aktivitas pembangunan smelter mana saja yang terdampak oleh pandemi covid-19," jelas Riza.

[Gambas:Video CNN]

Diketahui, pemerintah memberikan rekomendasi persetujuan ekspor kepada pemegang izin usaha pertambangan operasi produksi mineral logam dan izin usaha pertambangan khusus operasi produksi mineral logam yang tidak memenuhi persentase kemajuan fisik pembangunan smelter 90 persen.

Meski diberikan rekomendasi persetujuan ekspor, tapi pemerintah tetap memberikan denda administratif dan nilai kumulatif penjualan ke luar negeri kepada pemegang izin usaha pertambangan operasi produksi mineral logam dan izin usaha pertambangan khusus operasi produksi mineral logam yang pembangunan smelter nya belum mencapai 90 persen.

 

(aud/agt)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK