32 Juta Orang Diprediksi Gagal Keluar dari Jurang Kemiskinan

CNN Indonesia | Jumat, 26/03/2021 13:43 WIB
Bank Dunia memperkirakan 32 juta orang miskin di kawasan Asia Timur-Pasifik gagal keluar dari jurang kemiskinan karena krisis ekonomi dampak pandemi. Bank Dunia memperkirakan 32 juta orang miskin di kawasan Asia Timur-Pasifik gagal keluar dari jurang kemiskinan karena krisis ekonomi dampak pandemi. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)
Jakarta, CNN Indonesia --

Bank Dunia memperkirakan ada 32 juta orang miskin di kawasan Asia Timur-Pasifik yang gagal keluar dari jurang kemiskinan pada tahun lalu. Sebab, mereka tertekan krisis ekonomi yang muncul sebagai dampak pandemi virus corona atau covid-19.

Bank Dunia merangkum proyeksi terbarunya dalam laporan terbaru edisi April 2021. Laporan itu dipublikasikan pada hari ini, Jumat (26/3).

"Diperkirakan 32 juta penduduk di kawasan ini gagal keluar dari kemiskinan," ujar Kepala Ekonom Bank Dunia untuk kawasan Asia Timur dan Pasifik Aaditya Mattoo dalam konferensi pers virtual.


Ia menjelaskan 32 juta orang miskin yang sulit lepas dari jerat kemiskinan ini merupakan mereka yang berpenghasilan di bawah garis kemiskinan. Saat ini, nilai garis kemiskinan ada di kisaran US$5,5 per hari atau setara Rp79.200 per hari (kurs Rp14.400 per dolar AS).

Tak hanya itu, Bank Dunia juga melihat bahwa pandemi membuat penurunan angka kemiskinan yang selama ini terjadi di kawasan jadi terhenti. Padahal, kawasan secara konsisten mampu menurunkan jumlah orang miskin dari tahun ke tahun sebelumnya.

"Akibat tekanan ekonomi, (angka) kemiskinan di kawasan berhenti mengalami penurunan untuk pertama kalinya dalam 20 tahun," ucapnya.

Selain kemiskinan, pandemi covid-19 juga membuat tingkat ketimpangan meningkat. Khususnya, ketimpangan dalam penanganan penyakit, ekonomi, sosial, hingga teknologi digital.

"Penjualan oleh usaha mikro menyusut sepertiga dibandingkan penjualan perusahaan besar yang menyusut seperempat. Perusahaan yang lebih kecil juga cenderung tidak memanfaatkan berbagai peluang digital baru," terangnya.

Di luar kemiskinan dan ketimpangan ekonomi, Bank Dunia juga menyatakan bahwa pandemi memberi dampak penurunan kesetaraan di kawasan Asia Timur-Pasifik.

Misalnya, anak-anak rumah tangga miskin memiliki kesempatan yang lebih kecil untuk mendapatkan pembelajaran jarak jauh yang menggunakan akses digital teknologi ketimbang anak-anak rumah tangga menengah.

Selain itu, pandemi juga memberi dampak peningkatan kekerasan terhadap perempuan.

"Perempuan mengalami kekerasan di dalam rumah tangga lebih parah dibandingkan sebelumnya, di mana 35 persen dari responden di Laos dan 83 persen responden di Indonesia mengatakan bahwa tingkat kekerasan domestik memburuk akibat covid-19," paparnya.

Berbagai penurunan ini menjadi tantangan bagi negara-negara di kawasan ke depan. Sebab, pekerjaan rumah mereka tidak hanya berupa pemulihan ekonomi, tetapi juga memperbaiki indikator ini di masa mendatang.

"Ketika negara-negara mulai bangkit pada 2021, mereka akan perlu mengambil tindakan mendesak untuk melindungi penduduk yang rentan, memastikan terjadinya pemulihan yang inklusif, ramah lingkungan, dan berketahanan," kata Wakil Presiden Bank Dunia untuk Asia Timur-Pasifik Victoria Kwakwa.

[Gambas:Video CNN]



(uli/bir)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK