AirAsia Rugi Rp8,5 Triliun pada 2020 Karena Lockdown

CNN Indonesia | Rabu, 31/03/2021 08:40 WIB
AirAsia rugi Rp8,5 triliun atau naik dari kuartal IV 2019 yang hanya Rp1,34 triliun akibat kebijakan lockdown demi mengatasi penyebaran corona. AirAsia rugi Rp8,5 triliun pada 2020, naik dari kuartal IV 2019 yang hanya Rp1,34 triliun akibat kebijakan lockdown demi mengatasi penyebaran corona. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/FAUZAN).
Jakarta, CNN Indonesia --

AirAsia Group Bhd, maskapai berbiaya rendah (LCC) asal Malaysia membukukan rugi bersih senilai 2,44 miliar ringgit atau Rp8,5 triliun (kurs Rp3.486 per ringgit) pada kuartal IV 2020. Jumlah kerugian meningkat dari sebelumnya 384,4 juta ringgit atau Rp1,34 triliun pada kuartal IV 2019.

Kerugian muncul sebagai dampak dari minimnya operasional maskapai di tengah kebijakan penguncian wilayah (lockdown) sejumlah negara demi mengatasi penyebaran pandemi virus corona atau covid-19.

Terbukti, pendapatan maskapai anjlok 92 persen menjadi 267,4 juta ringgit atau Rp932,15 miliar karena kapasitas penumpang susut 88 persen dari tahun sebelumnya.


Penurunan kapasitas penumpang utamanya terjadi di penerbangan di domestik Malaysia dan dua negara tetangga, Indonesia dan Filipina. Hal ini sejalan dengan kebijakan penutupan penerbangan dari masing-masing negara dan dunia.

"Sebagian besar kerugian untuk periode tersebut berkaitan dengan depresiasi aset hak pakai dan bunga atas kewajiban sewa sebesar 654,2 juta ringgit (Rp2,28 triliun)," ungkap manajemen AirAsia seperti dikutip dari Reuters, Rabu (31/3).

Tercatat liabilitas atau utang sewa mencapai 12,7 miliar ringgit setara Rp44,27 triliun pada 31 Desember 2020. Sementara nilai sewa pesawat yang ditangguhkan sebesar 1,5 miliar ringgit atau Rp5,22 triliun.

Sementara pinjaman AirAsia naik tiga kali lipat dari 428,9 juta ringgit menjadi 1,28 miliar ringgit setara Rp4,46 triliun pada akhir 2020. Sebagian besar pinjaman untuk cadangan lindung nilai atas pembelian bahan bakar yang ditangguhkan.

Dari sisi penumpang, secara total susut 90 persen dengan kapasitas pesawat yang tuurn 67 persen. Bersamaan dengan kondisi ini, piutang AirAsia pun turun, meski sudah direstrukturisasi.

Salah satu langkah restrukturisasi dilakukan pada AirAsia Jepang yang sudah berada di jurang kebangkrutan pada Oktober 2020. Padahal, AirAsia sempat mendapat pinjaman pemulihan sekitar 1 miliar ringgit atau Rp3,48 triliun dari bank-bank Malaysia.

Kendati begitu, Grup Chief Executive AirAsia Tony Fernandes mengungkapkan grup tetap optimis bahwa pemulihan bisnis bisa terjadi sejalan dengan pemulihan ekonomi.

Tony meyakini pemulihan ekonomi akan mulai terjadi pada kuartal II 2021 sejalan dengan program vaksinasi yang mulai digencarkan banyak negara. Tapi, untuk pemulihan bisnis secara menyeluruh diperkirakannya baru terjadi dalam dua tahun ke depan.

[Gambas:Video CNN]



(uli/agt)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK