Mengejar Kesenjangan Digital di Tengah Gempita Teknologi

Grab Indonesia, CNN Indonesia | Jumat, 09/04/2021 18:35 WIB
Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia setahun terakhir memaksa semua orang beradaptasi dengan teknologi. Sebagai penyokong perekonomian, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga mendapat perhatian khusus dari pemerintah. (Dok. Grab Indonesia).
Jakarta, CNN Indonesia --

Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia setahun terakhir memaksa semua orang beradaptasi dengan teknologi. Pemerintah dan sektor swasta pun bersama mendengungkan pentingnya digitalisasi untuk membangkitkan kembali perekonomian.

Namun, keterampilan digital masih menjadi kendala bagi banyak orang. Pada 2020 IMD World Digital Competition melaporkan bahwa Indonesia saat ini menduduki peringkat paling rendah di seluruh dunia mengenai dua hal terpenting dalam ekonomi digital, yakni pengetahuan dan keahlian menggunakan teknologi.

World Economic Forum menyebut, pada masa mendatang akan dibutuhkan kemampuan menganalisis, kreativitas, serta fleksibilitas sebagai keterampilan utama. Dengan demikian, bisnis bisa dijalankan oleh mereka yang melakukan reskilling dan meningkatkan keterampilan. Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Informatika Mira Tayyiba mengatakan, pemerintah terus berusaha keras mempersempit kesenjangan akses internet dan literasi digital.

"Indonesia akan terus berupaya untuk mencapai level inklusif di mana semua orang dari latar belakang sosial, usia, dan tingkat pendapatan yang berbeda mendapatkan kesempatan yang sama untuk berpartisipasi secara penuh sebagai anggota masyarakat melalui digitalisasi," kata Mira dalam sesi Diskusi Konektivitas dan Inklusi Sosial 1st Digital Economy Task Force Meeting G20 di Italia.

Sebagai penyokong perekonomian, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga mendapat perhatian khusus dari pemerintah. Berbagai program digelar sejak 2020, seperti peluncuran program e-learning gratis EDUKUKM, juga program Kakak Asuh UMKM yang menyasar mereka yang ingin jadi pelaku usaha digital, khususnya di e-commerce.

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengatakan, pemerintah perlu berkolaborasi dengan pihak swasta untuk mempercepat perluasan dampak positif dari berbagai program itu. Ia menekankan bahwa pembekalan keahlian di bidang teknologi informasi atau IT mutlak dibutuhkan untuk mendukung UMKM.

"Saat ini sudah ada pergeseran pemasaran produk UMKM dari offline ke online, namun jumlahnya baru mencapai 8 juta UMKM, atau 13 persen dari seluruh UMKM. Setelah online pun, UMKM masih harus tetap dan akan bersaing dengan seluruh brand besar di platform digital," ujar Teten.

Country Managing Director Grab Indonesia Neneng Goenadi menyatakan sepakat atas pernyataan Teten. Ia menyebut peran platform teknologi tidak hanya sebagai penyedia solusi digitalisasi, namun seharusnya terlibat dalam upaya peningkatan keterampilan digital.

"Kalau platformnya sudah ada, tapi kemampuan dan kapasitas sumber daya manusianya belum ada, ini juga bukan hal yang baik. Di sisi lain, ada banyak juga UMKM yang sudah tahu cara go-digital, tetapi kurang paham cara mengembangkan bisnis digital mereka," ujar Neneng.

Grab IndonesiaAyam Canton Soerabaja salah satu pelaku UMKM yang telah memetik hasil dari reskilling dan penggunaan teknologi untuk meningkatkan omzet. (Dok. Grab Indonesia).


Memetik Manfaat dari Digitalisasi

Grab #TerusUsaha Akselerator merupakan salah satu upaya Grab dalam memberi pelatihan dan pendampingan bisnis bagi ratusan pelaku UMKM lokal untuk beradaptasi dengan teknologi. Selain itu, juga ada program GrabAcademy, sebuah platform daring yang memudahkan mitra pengemudi dan mitra merchant mendapat pengetahuan, termasuk literasi digital dan keuangan.

Erna Sari (38), pemilik Ayam Penyet Bandung, dan Eko Sulistyo (42), pemilik Ayam Canton Soerabaja, adalah dua pelaku UMKM yang telah memetik hasil dari reskilling dan penggunaan teknologi untuk meningkatkan omzet. Mereka mengaku sebelumnya kerap kesulitan dalam hal pencatatan keuangan, promosi, hingga inovasi produk.

Erna menuturkan, pandemi menurunkan omzetnya begitu drastis sehingga ia harus menutup 5 gerai dan merumahkan 12 karyawan. Tak menyerah, ia berhasil mendapatkan titik terang usai mengikuti program Grab #TerusUsaha Akselerator yang juga memberinya pemahaman tentang

"Selama mengikuti program pelatihan Grab #TerusUsaha Akselerator, saya mendapatkan kesempatan belajar langsung dari pakarnya dan menambah keahlian dalam mengelola usaha. Banyak sekali materi yang langsung saya terapkan ke dalam bisnis. Salah satunya adalah mengelola keuangan menggunakan aplikasi GrabMerchant serta digital marketing tentang bagaimana cara berpromosi dengan memanfaatkan media sosial," katanya.

Keberanian Erna untuk berinovasi pun terdorong. Ia membuat menu makanan sambal dan kremes yang dibekukan. Dari Grab #TerusUsaha Akselerator juga Erna paham tentang cara mendaftarkan izin edar usaha ke Lembaga Badan Pengawas Obat dan Makanan (LBPOM).

Sementara, Eko Sulistyo yang juga peserta Grab #TerusUsaha Akselerator menyatakan mendapat banyak pelajaran dari program tersebut, yang langsung diterapkan dalam bisnisnya.

"Setelah mengikuti program pelatihan ini, saya jadi tahu pentingnya kemasan produk yang menarik agar lebih diminati. Saya langsung mengubah logo serta kemasan Ayam Canton Soerabaja. Selain itu, saya sudah bisa melunasi hutang modal mendirikan usaha karena paham cara mengatur keuangan bisnis dan pengeluaran rumah tangga," kata Eko.

Reskilling tidak hanya terbukti mendukung pelaku UMKM, tetapi juga para pekerja lepas. Sudah lama Nyai Dasimah (38) ingin bekerja membantu perekonomian keluarga. Karena waktu kerja yang fleksibel, ia mendaftar jadi mitra pengemudi. Namun Nyai Dasimah sempat kesulitan mendapat orderan, juga bingung mengelola keuangan.


Grab IndonesiaNyai Dasimah menjadi mitra pengemudi dan mengikuti pelatihan-pelatihan daring GrabAcademy. (Dok. Grab Indonesia).

Nyai kemudian mengikuti pelatihan-pelatihan daring GrabAcademy dari aplikasi mitra pengemudi. Disajikan dalam format video, setiap modul bisa diselesaikan dalam waktu 10 menit saja. Berbagai pelatihan itu mencakup perbaikan kualitas layanan, keamanan saat berkendara, mengatasi pelecehan seksual dan verbal, sampai cara mengelola keuangan dan pemanfaatan teknologi internet.

"Setelah mengikuti beberapa modul dari program pelatihan tersebut, saya sekarang fasih menggunakan digital wallet untuk menyisihkannya sebagai tabungan. Ada juga modul untuk belajar supaya bisa lebih memanfaatkan internet dan mengoperasikan Google. Hal ini sangat bermanfaat bagi saya yang merupakan seorang ibu rumah tangga, terlebih saat ini kedua anak saya harus menjalani sekolah daring setiap harinya," ungkap Nyai Dasimah.

Irwan Subandi (38) menyisakan cerita serupa. Mitra pengemudi GrabCar itu tertarik mengikuti program pelatihan GrabAcademy karena ia memiliki cicilan mobil. Mengikuti program materi pengelolaan keuangan, kini Irwan telah menuntaskan cicilan tanpa kesulitan, sembari menabung untuk pendidikan anak.

"Sebelum mengikuti program pelatihan, saya tidak pernah tahu pentingnya menyiapkan dana darurat dan melakukan investasi. Ini sangat penting bagi saya selalu kepala keluarga." ujar Irwan.

Neneng Goenadi membenarkan, ada banyak pekerjaan rumah sebelum pelaku UMKM dan pekerja lepas benar-benar mendapat manfaat ekonomi digital. Pihaknya yakin bahwa pelatihan keterampilan digital bisa menjadi awal mula langkah menjangkau lebih banyak orang dalam perkembangan teknologi. Sejauh ini, teknologi digital terbukti membantu usaha UMKM dan pekerja lepas untuk bertahan dan berkembang.

"Ditambah dengan reskilling, diharapkan dapat meningkatkan kemampuan serta keahlian dalam produktivitas untuk bersaing dan mandiri di berbagai sektor. Hal ini akan berdampak positif pada penyerapan tenaga kerja dan mengurangi tingkat pengangguran, serta peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), yang pada akhirnya membantu memulihkan perekonomian negara," kata Neneng.

(osc)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK