Miris Nasib Petani, Kelompok Miskin yang Topang Ekonomi RI

CNN Indonesia | Rabu, 17/02/2021 18:19 WIB
BPS mencatat sektor pertanian tumbuh 1,71 persen dan berkontribusi besar kepada perekonomian Indonesia. BPS mencatat sektor pertanian tumbuh 1,71 persen dan berkontribusi besar kepada perekonomian Indonesia. (Dok. Istimewa).
Jakarta, CNN Indonesia --

Pertumbuhan ekonomi Indonesia anjlok minus 2,07 persen pada 2020 akibat pandemi covid-19. Kontraksi merupakan yang pertama sejak krisis moneter 1998 silam, kala itu ekonomi RI minus 13 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menyebut pandemi menyebabkan berbagai sektor lumpuh. Hanya tujuh dari 17 sektor yang mencatatkan kinerja positif.

Dari catatan BPS, yang paling parah adalah sektor transportasi dan pergudangan yang minus 15,04 persen. Lalu, diikuti sektor akomodasi dan makanan yang mencapai negatif 10,22 persen.


Dari segelintir sektor yang berhasil bergerak positif, salah satunya adalah sektor pertanian yang tumbuh 1,71 persen. Meski tumbuh melambat dibandingkan 2019, namun Suhariyanto menyebut koreksi bakal jauh lebih dalam jika tidak ditopang oleh sektor pertanian.

Pasalnya, kontribusi sektor pertanian cukup besar terhadap perekonomian Indonesia. Bayangkan, lanjutnya, di tengah lesunya ekspor Indonesia yang minus 2,61 persen tahun lalu, ekspor sektor pertanian mampu mencetak pertumbuhan 14,03 persen.

Belum lagi besarnya penyerapan tenaga kerja di sektor terkait. Ia mengatakan dari total seluruh angkatan tenaga kerja, 29,8 persen di antaranya diserap oleh sektor pertanian.

"Tidak terbayangkan kalau sektor pertanian kontraksi, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mengalami kontraksi yang sangat dalam karena besarnya kontribusi sektor pertanian terhadap ekonomi," ujar Suhariyanto pada diskusi daring INDEF bertajuk Daya Tahan Sektor Pertanian: Realita atau Fatamorgana? pada Rabu (17/2).

Keberhasilan sektor pertanian ini harus diapresiasi. Menurut dia, pertanian yang menjadi sektor penyelamat di tengah resesi ini harus mendapat perhatian bersama. Tidak hanya berkonsentrasi pada output atau hasil pertanian saja, tapi juga kesejahteraan para petani.

Karena mirisnya petani menjadi kelompok paling rentan. BPS menemukan mayoritas kelompok rumah tangga miskin menurut sumber penghasilan utama berasal dari kelompok pertanian, yakni 46,3 persen.

Sisanya, berasal dari kelompok menganggur 15,02 persen, industri 6,58 persen, dan lainnya 32,1 persen.

Tingkat kemiskinan yang masih terpusat di pedesaan menjadi salah satu faktor pendorong kemiskinan di kalangan petani, mengingat mayoritas petani berada di pelosok daerah.

"Persentase penduduk miskin di desa jauh lebih tinggi dari di kota dan tingkat kedalaman juga lebih tinggi. Kemudian tingkat keparahan juga lebih memprihatinkan," ujarnya.

Selama pandemi, pengangguran RI mengalami kenaikan sebanyak 2,67 juta orang. Banyak di antaranya pulang ke kampung untuk menjadi petani karena tidak menemukan pekerjaan di perkotaan.

Hal ini tercermin dari data tenaga kerja sektor pertanian yang mengalami kenaikan dari 27,53 persen pada 2019 menjadi 29,76 persen pada 2020. Data temuan BPS per Agustus 2020.

Suhariyanto mengatakan kenaikan ini menjadi beban bagi sektor pertanian. Pasalnya, kontribusi pertanian terhadap PDB hanya 13 persen, sementara harus menanggung hampir 30 persen dari total angkatan kerja. Ia menilai ini akan membuat produktivitas pertanian menurun.

Rendahnya produktivitas pertanian juga disebabkan oleh dominasi pekerja berpendidikan rendah dan kelompok berusia senja. Karenanya, ia menyebut pemerintah harus mencari cara agar anak muda mau dan bisa masuk ke sektor pertanian.

"Di sisi lain SDM pertanian itu kurang menguntungkan karena mayoritas didominasi oleh mereka yang berpendidikan rendah," imbuhnya.

Lebih lanjut, dia membeberkan kalau seringnya harga komoditas pangan jatuh saat panen menjadi faktor yang berkontribusi pada rendahnya tingkat kesejahteraan petani. Dia mencontohkan harga gabah atau beras yang cenderung turun pada Maret-April atau saat panen.

Di tengah rendahnya nilai tukar petani yang diperparah dengan turunnya harga saat panen membuat petani kerap menjerit karena merugi.

Peran pemerintah, menurut dia, adalah menjaga stabilitas harga agar meski stok melimpah saat panen, namun harga tetap normal sehingga petani tak menanggung rugi.

Sedangkan, upah riil buruh tani cenderung flat atau hanya naik 0,01 persen pada Januari 2021 dibandingkan Desember 2020 (mtm). Jika menghitung inflasi, petani malah tekor. Ini menjadi salah satu penyebab daya beli petani sangat rendah.

"Upah riil buruh naiknya tipis sekali dan bisa dibilang agak flat dan itu semua habis ditelan inflasi. Kata lain dari sini bisa lihat daya beli buruh tani sangat rendah sekali. Yang terjadi buruh tani tidak menarik dan banyak yang pindah ke buruh bangunan," jelasnya.

Melihat itu, Suhariyanto memberikan beberapa catatan kepada pemerintah agar menunjukkan keberpihakan kepada petani. Pertama, diperlukan upaya menjaga harga beli produk petani terutama di periode musim panen.

Kedua, kebijakan pengendalian inflasi tidak hanya berfokus pada konsumen tapi tetap memperhatikan keberpihakan bagi petani.

"Karena pada akhirnya mereka lah yang menyediakan pangan bagi kita semua, tanpa meningkatkan kesejahteraannya, semua orang akan meninggalkan pertanian dan kita akan terpuruk dan ketahanan pangan akan semakin lemah," tutupnya.

[Gambas:Video CNN]



(wel/age)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK