Citigroup Keluar dari Bisnis Consumer Banking di Indonesia

CNN Indonesia | Jumat, 16/04/2021 09:40 WIB
Citigroup memutuskan untuk keluar dari bisnis consumer banking di 13 negara, termasuk Indonesia demi melipatkandakan bisnis wealth management. Citigroup memutuskan untuk keluar dari bisnis consumer banking di 13 negara, termasuk Indonesia demi melipatkandakan bisnis wealth management. Ilustrasi. (Alastair Pike / AFP).
Jakarta, CNN Indonesia --

Citigroup mengumumkan akan keluar dari bisnis consumer banking di 13 negara, termasuk Indonesia. Selanjutnya, mereka akan memfokuskan bisnis consumer banking global di empat pasar, meliputi Singapura, Hong Kong, London, dan Uni Emirat Arab.

Melansir The Straits Times, Jumat (16/4), pengumuman itu disampaikan perusahaan pada Kamis (15/4). Selain Indonesia, Citigroup akan menarik bisnis consumer banking dari China, India, Australia, Bahrain, dan Korea Selatan.

Selanjutnya, Malaysia, Filipina, Polandia, Rusia, Taiwan, Thailand, dan Vietnam.


CEO Jane Fraser mengatakan menyatakan upaya itu dilakukan untuk melipatgandakan bisnis wealth management perusahaan yang memiliki pertumbuhan lebih baik.

"Kami tidak memiliki skala yang kami butuhkan untuk bersaing (di pasar 13 negara tersebut)," ujarnya.

Mayoritas negara yang keluar dari bisnis consumer banking tersebut berada di Asia. Wilayah itu menyumbang pendapatan dari bisnis consumer banking sebesar US$6,5 miliar dari 224 cabang ritel pada 2020 lalu.

Kepala ASEAN dan Country Officer Citi untuk Singapura Amol Gupte mengatakan sebagai pusat keuangan internasional, Singapura adalah pusat penting bagi Citi.

[Gambas:Video CNN]

"Singapura berfungsi sebagai pintu gerbang global untuk klien kami di Asia dan di seluruh dunia. Strategi bisnis kami mengakui peran penting Singapura untuk bisnis konsumen dan manajemen kekayaan kami, serta bisnis kelembagaan kami," ujarnya.

Pada 2015, bank ditunjuk sebagai Bank Penting Sistemik Domestik oleh Otoritas Moneter Singapura. Bank-bank tersebut dinilai memiliki dampak yang signifikan terhadap stabilitas sistem keuangan dan fungsi perekonomian negara secara lebih luas.

Langkah tersebut dilakukan karena Citigroup melaporkan laba kuartal pertama sebesar US$ 7,9 miliar pada 2020, tiga kali lipat lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Namun, pendapatan turun 7 persen menjadi US$19,3 miliar

Menanggapi rencana itu, CEO Citi Indonesia Batara Sianturi mengatakan penyegaran strategi tersebut justru menciptakan peluang besar bagi bank.

"Kami memiliki peluang menawarkan nilai proposisi yang berbeda dan unik kepada para klien kami, saat kami memasuki fase baru pertumbuhan dan transformasi yang berfokus pada bisnis perbankan institusional kami," ujar Batara mengutip dari Antara.

Ia memastikan rencana tersebut tidak mempengaruhi operasional di Indonesia. Selain itu, keluarnya bisnis consumer banking dari Indonesia tidak berpengaruh pada karyawan.

"Tidak akan ada perubahan langsung pada operasi kami di Indonesia, dan tidak ada dampak langsung terhadap para karyawan kami setelah pengumuman ini," katanya.

Ia menuturkan Citigroup telah berada di Indonesia sejak 1968 dengan tim yang penuh dedikasi dan basis klien yang kuat yang telah berkontribusi pada kesuksesan perseroan.

Saat ini, lanjut Batara, pihaknya melayani 90 persen dari 20 perusahaan terbesar di Indonesia dan pada tahun lalu perseroan mengumpulkan dana sebesar lebih dari 10 miliar dolar AS untuk para klien di Indonesia.

(ulf/agt)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK