Rupiah Lesu ke Rp14.530 Karena Lonjakan Kasus Corona India

CNN Indonesia | Rabu, 21/04/2021 16:09 WIB
Nilai tukar rupiah melemah 0,22 persen ke posisi Rp14.530 per dolar AS pada akhir perdagangan Rabu (21/4) sore. Nilai tukar rupiah melemah 0,22 persen ke posisi Rp14.530 per dolar AS pada akhir perdagangan Rabu (21/4) sore. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia --

Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.530 per dolar AS pada akhir perdagangan Rabu (21/4) sore. Posisi ini melemah 33 poin atau 0,22 persen dari Rp14.497 per dolar AS pada Selasa (20/4).

Sementara kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp14.549 per dolar AS atau melemah dari Rp14.508 per dolar AS pada Selasa kemarin.

Di kawasan Asia, rupiah melemah bersama mayoritas mata uang lainnya. Hanya yuan China yang menguat 0,05 persen dari dolar AS.


Sedangkan rupee India melemah 0,88 persen, won Korea Selatan minus 0,56 persen, peso Filipina minus 0,25 persen, baht Thailand minus 0,12 persen, yen Jepang minus 0,04 persen, ringgit Malaysia minus 0,04 persen, dolar Hong Kong minus 0,03 persen, dan dolar Singapura minus 0,03 persen.

Begitu juga dengan mata uang utama negara maju, mayoritas berada di zona merah. Euro Eropa melemah 0,2 persen, franc Swiss minus 0,15 persen, dolar Australia minus 0,05 persen, dan poundsterling Inggris minus 0,03 persen.

Tapi, rubel Rusia menguat 0,06 persen dan dolar Kanada 0,12 persen.

Analis Asia Valbury Futures Lukman Leong mengatakan pelemahan rupiah dan mayoritas mata uang Asia terjadi karena ada kekhawatiran bahwa pemulihan ekonomi akan tersendat. Hal ini dipengaruhi oleh kenaikan jumlah kasus harian covid-19 di dunia.

"Beberapa negara mengalami kenaikan kasus lagi, seperti India, ini menimbulkan kekhawatiran baru setelah pasar keuangan naik turun," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.

Di sisi lain, ia mengatakan pelaku pasar juga masih mencermati kondisi pasar keuangan meski tingkat imbal hasil surat utang AS tengah menurun.

"Ada risk dari pasar keuangan global juga karena obligasi AS masih naik turun, besok masih ada potensi naik lagi," pungkasnya.

[Gambas:Video CNN]



(uli/age)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK