ANALISIS

Tutupnya SPBU Total dan Kans Pemain Asing Lawan Pertamina

Hendra Friana, CNN Indonesia | Jumat, 07/05/2021 07:00 WIB
Pengamat menilai pemain asing seperti Total masih sulit bersaing dengan PT Pertamina (Persero) di bisnis Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Pengamat menilai pemain asing seperti Total masih sulit bersaing dengan PT Pertamina (Persero) di bisnis Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Indonesia. Ilustrasi. (iStockphoto/Beata Haliw).
Jakarta, CNN Indonesia --

PT Total Oil Indonesia memutuskan hengkang dari bisnis bahan bakar ritel usai menutup permanen 18 unit pom bensin (SPBU) di wilayah Jabodetabek dan Bandung sejak akhir 2020.

Perusahaan migas asal Prancis itu kini kembali ke bisnis awal sebagai penyedia sekaligus distributor produk pelumas dengan merek TOTAL dan ELF.

"Keputusan ini selaras dengan strategi Total secara global dalam hal manajemen portofolio kami secara aktif," ucap Marketing Manager Total Oil Indonesia Magda Naibaho kepada CNNIndonesia.com, Kamis (6/5).


Total sendiri bukan satu-satunya pemain asing di bisnis SPBU yang bernasib muram. Jauh sebelumnya, perusahaan migas asal Malaysia, Petronas, juga menyerah karena pom bensin mereka sepi pelanggan.

Mengutip Detik.com, 19 SPBU Petronas di Jakarta dan 15 lainnya di Medan tutup sepanjang 2012 hingga awal 2013. Beberapa aset pom bensin mereka kemudian dilelang ke Pertamina dan kembali beroperasi setelah bersalin logo.

Direktur Eksekutif IESR Fabby Tumiwa menilai apa yang dialami Total memang tak berbeda jauh dengan Petronas. Keduanya kalah bersaing dengan Pertamina yang mendapatkan jatah jumbo dalam penyaluran BBM bersubsidi berkualitas rendah dari pemerintah.

Sementara, Total dan Petronas hanya menjual bahan bakar dengan kualitas RON 92/CN 52 ke atas yang permintaannya tidak terlalu tinggi.

"Dari sisi volume penjualan, SPBU Pertamina lebih tinggi karena tingkat penjualan produk-produk dengan kualitas rendah itu dibeli masyarakat," ucap Fabby kepada CNNIndonesia.com.

Memang, pemerintah juga memberikan jatah BBM subsidi kepada swasta, yakni PT AKR Corporindo (AKRA). Namun, jumlahnya hanya nol koma sekian persen jika dibandingkan Pertamina.

Tahun ini, misalnya, Pertamina mendapat kuota Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) atau Premium (BBM RON 88) sebanyak 10 juta kiloliter (kl) serta Jenis BBM Tertentu (JBT) solar dan minyak tanah masing-masing 15.580.400 kl dan 500 ribu kl. Sedangkan AKR hanya mendapatkan jatah penyaluran JBT untuk minyak solar sebanyak 219.960 kl.

Pembagian jatah sendiri dilakukan BPH Migas lewat beauty contest berdasarkan tiga penilai yakni teknis, finansial dan komersial. Pertamina, yang memiliki lebih dari 7 ribu SPBU dan jejaring distribusi hingga ke pelosok, serta kemampuan finansial yang kuat, praktis mendapatkan jatah paling besar.

"Lebih dari 90 persen penjualan BBM Pertamina berasal dari penjualan BBM RON 90 (Pertalite), RON 88 (Premium), Solar, dan Dexlite," jelas Fabby.

Meski demikian, menurut Fabby, sebenarnya potensi bisnis retail SPBU masih tinggi paling tidak sampai 2030. Pasalnya, tingkat kepemilikan kendaraan bermotor Indonesia belum jenuh dan kelas menengah masih tumbuh.

Memang pergeseran ke arah kendaraan bermotor listrik (electric vehicle/EV) sudah mulai terjadi. Namun, butuh beberapa tahun lagi hingga permintaannya naik tajam, seiring dengan penurunan harga EV, peningkatan daya beli masyarakat, serta kepercayaan terhadap teknologi tersebut.

"Terutama terkait dengan ketersediaan infrastruktur charging/pengisian listrik untuk mengatasi range anxiety," tuturnya.

Hanya saja, menurut Fabby, kondisi persaingan tak akan banyak berubah sampai penjualan BBM kualitas rendah dihentikan. Jika tidak, para pesaing Pertamina hanya bisa bermain pada segmen menengah ke atas yang mulai sadar akan pentingnya bahan bakar berkualitas tinggi

"Kalau bisa menangkap konsumen yang punya kendaraan bermotor dengan kebutuhan bahan bakar dengan kualitas tinggi dengan RON/CN yang tinggi, bisa saja (bertahan). Tapi dari sisi volume penjualan tidak besar. Selain itu, andaikata pun bisa tetap bertahan, tapi akan sulit untuk ekspansi," terang Fabby.

[Gambas:Video CNN]



Peluang Terbuka Lebar

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK