SoftBank dan Alibaba Jadi Penguasa Saham GoTo

CNN Indonesia | Jumat, 21/05/2021 07:30 WIB
Softbank dilaporkan akan menggenggam 15,3 persen saham perusahaan hasil merger Gojek-Tokopedia, Group Goto. Sementara, Alibaba akan mengempit 12,6 persen. Softbank dilaporkan akan menggenggam 15,3 persen saham perusahaan hasil merger Gojek-Tokopedia, Group Goto. Sementara, Alibaba akan mengempit 12,6 persen. Ilustrasi. (Gojek).
Jakarta, CNN Indonesia --

SoftBank asal Jepang dan Alibaba dari China menjadi dua perusahaan yang menguasai kepemilikan saham terbesar Grup GoTo, perusahaan hasil merger Gojek dan Tokopedia. Softbank akan menggenggam 15,3 persen saham GoTo, sementara Alibaba 12,6 persen.

Melansir Nikkei Asia, hal ini terungkap dari sebuah dokumen yang didapat oleh perusahaan media yang berkantor pusat di Tokyo, Jepang itu. Porsi kepemilikan saham SoftBank dan Alibaba merupakan yang terbesar karena mencapai dua digit.

Sementara saham milik investor lain hanya satu digit, termasuk investor berskala global lain, seperti Google hingga Temasek Singapura, yang juga punya saham di Gojek dan Tokopedia.


Saat merger menjadi GoTo, Gojek akan menggenggam sekitar 58 persen saham perusahaan tersebut. Sementara sisanya, 42 persen dikantongi oleh Tokopedia.

Nantinya, GoTo akan melakukan penawaran saham perdana ke publik (Initial Public Offering/IPO) di bursa saham Indonesia. Begitu juga dengan Amerika Serikat.

Kabarnya, perusahaan mengincar valuasi perusahaan mencapai US$40 miliar atau setara Rp572 triliun (kurs Rp14.300 per dolar AS). Nilai ini nantinya akan mendekati torehan Grab, pesaingnya.

"Perusahaan akan bekerja sangat keras pada integrasi pascamerger dan kemudian mempersiapkan dual listing ini (di Indonesia dan AS). Mereka memiliki tahun yang sibuk ke depan. Saya sangat berharap ini terjadi di 2021, tetapi mereka punya banyak pekerjaan," ungkap seorang sumber kepada Nikkei Asia, seperti dikutip CNNIndonesia.com, Kamis (20/5).

Analis The Economist Intelligence Swarup Gupta menilai merger Gojek dan Tokopedia untuk membesarkan pasar mereka di Indonesia. Selain itu, untuk bersaing dengan rivalnya, seperti Sea Group dan Grab.

"Saya percaya bahwa merger mungkin datang terlambat, karena ini bisa lebih merupakan kasus melindungi wilayah dalam negeri (Indonesia) dari saingan yang jauh lebih besar (Sea dan Grab), yang dapat menghambat upaya untuk tumbuh (di Asia Tenggara). Oleh karena itu, merger lebih terlihat sebagai langkah defensif pada saat ini," ucap Gupta.

[Gambas:Video CNN]



(uli/sfr)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK