ANALISIS

Menakar Keampuhan Jurus Pangkas Komisaris Garuda ala Erick

Hendra Friana, CNN Indonesia | Jumat, 04/06/2021 07:23 WIB
Pengamat menilai pengurangan jumlah komisaris tidak akan berdampak signifikan pada pengurangan beban PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Pengamat menilai pengurangan jumlah komisaris tidak akan berdampak signifikan pada pengurangan beban perusahaan. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A).
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan bakal memangkas jumlah komisaris PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk dari lima menjadi hanya dua hingga tiga orang. Hal tersebut ia sampaikan menanggapi surat Anggota Dewan Komisaris Garuda, Peter Gontha, yang meminta gajinya ditangguhkan hingga rapat umum pemegang saham (RUPS).

Menurut Erick, pengurangan jumlah komisaris juga merupakan bagian dari efisiensi agar perusahaan dapat keluar dari masalah keuangan. Jika tak ada aral melintang, rencana itu bakal dieksekusi dalam dua pekan ke depan.

"Kami akan lakukan sesegera mungkin, kasih kami waktu dua minggu lah, ada RUPS-nya tapi, mesti berdasarkan RUPS, nanti kami kecilkan jumlah komisaris," ujarnya di Kementerian BUMN, Rabu (2/6) lalu.


Meski demikian, Ekonom Institut for Development of Economics and Finance (Indef) Abra Talatov menilai apa yang disampaikan Erick soal pengurangan jumlah komisaris sebenarnya hanya gertakan.

Tujuannya agar anggota dewan komisaris Garuda, termasuk Peter, memiliki sense of crisis dan tak hanya terkesan menyalahkan kementerian.

Pasalnya dalam surat tersebut, Peter menyampaikan bahwa keputusan yang diambil Kementerian BUMN secara sepihak tanpa koordinasi dan melibatkan dewan komisaris turut menyebabkan kondisi keuangan Garuda makin kritis.

"Bisa juga sindiran halus bahwa sense of crisis oleh internal Garuda baik komisaris maupun manajemen dirasa belum optimal. Makanya ketika sindiran dimunculkan oleh Pak Peter, direspons lagi lah oleh Pak Erick, oh ya sudah sekalian saja kurangi jumlah komisaris," ujarnya saat dihubungi CNNIndonesia.com.

Lagi pula, menurut Abra, penyusutan jumlah komisaris tak akan berdampak signifikan terhadap pengurangan beban perusahaan.

Pasalnya, inefisiensi terbesar bukan berasal dari komponen pegawai atau sumber daya manusia (SDM), melainkan komponen sewa pesawat. Ini tercermin dari data Bloomberg (2019) yang mencatat rasio biaya sewa pesawat terhadap pendapatan Garuda Indonesia sebagai yang tertinggi di dunia, yakni mencapai 24,7 persen.

Padahal, mayoritas maskapai internasional lain berada di bawah 10 persen. "Di bawahnya (Garuda) ada AirAsia X Bhd, itu 19,7 persen. Lalu PAL Holdings Inc 11,8 persen. Tapi mayoritas maskapai global itu di bawah 10 persen," tuturnya.

Ada pula inefisiensi cukup besar pada biaya pemeliharaan dan perbaikan pesawat Garuda Indonesia di mana rasionya terhadap total beban usaha pada kuartal ketiga tahun lalu tercatat mencapai 15,04 persen, meningkat dari periode yang sama pada 2019 sebesar 11,98 persen.

"Perlu dievaluasi juga apa sih yang terjadi pada beban pemeliharaan dan perbaikan yang tidak efisien ini," jelasnya.

Perbaikan Internal

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK