Kemenkeu Proyeksi Industri Pengolahan Tumbuh 5,9 Persen 2022

CNN Indonesia | Sabtu, 05/06/2021 08:10 WIB
Kemenkeu memproyeksi industri pengolahan tumbuh 5,3 persen-5,9 persen pada 2022. Kemenkeu memproyeksi industri pengolahan tumbuh 5,3 persen-5,9 persen pada 2022.Ilustrasi. (Oky Lukmansyah).
Jakarta, CNN Indonesia --

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memproyeksi industri pengolahan tumbuh 5,3 persen-5,9 persen pada 2022. Industri pengolahan merupakan kontributor terbesar dalam pembentukan produk domestik bruto (PDB) nasional.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu mengatakan seluruh industri diproyeksi tumbuh positif tahun depan. Hal ini seiring dengan prediksi ekonomi nasional yang kembali positif tahun depan.

"Industri pengolahan menjadi engine of growth, didorong investasi pada industri padat karya dan partisipasi dalam global value chain," ungkap Febrio dalam diskusi online, Jumat (4/6).


Kemudian, sektor pertanian diprediksi tumbuh 3,6 persen-4 persen tahun depan. Febrio menyatakan sektor pertanian akan mendorong ketahanan pangan di dalam negeri.

"Lalu mendukung hilirisasi produk komoditas berdaya saing ekspor," imbuhnya.

Sektor lainnya, seperti perdagangan diprediksi tumbuh 4,8 persen-5,6 persen, konstruksi 6 persen-6,8 persen, pertambangan 1,8 persen-2,2 persen, jasa keuangan 5,5 persen-5,9 persen, informasi dan komunikasi 9,8 persen-10,3 persen, serta transportasi dan pergudangan 7,5 persen-8 persen.

Lalu, sektor administrasi pemerintahan diprediksi tumbuh 3,2 persen-3,7 persen, jasa pendidikan tumbuh 5,5 persen-6,1 persen, real estate tumbuh 5,3 persen-5,7 persen, serta penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 6 persen-6,7 persen.

Sektor jasa lainnya diproyeksi tumbuh 6,7 persen-7,3 persen, jasa perusahaan 7,5 persen-8 persen, jasa kesehatan 6,9 persen-7,4 persen, pengadaan listrik dan gas 5,5 persen-6,1 persen, serta pengadaan air dan pengelolaan sampah 5,2 persen-5,6 persen.

Secara keseluruhan, pemerintah memproyeksi ekonomi tahun depan tumbuh 5,2 persen-5,8 persen. Angkanya lebih tinggi dari prediksi tahun ini sebesar 4,5 persen-5,3 persen.

Sebagai informasi, mayoritas sektor masih minus pada kuartal I 2021. Rinciannya, konstruksi minus 0,79 persen, perdagangan minus 1,23 persen, industri minus 1,38 persen, jasa pendidikan minus 1,61 persen, pertambangan minus 2,02 persen, dan administrasi pemerintahan minus 2,94 persen.

Kemudian, jasa keuangan minus 2,99 persen, jasa lainnya minus 5,15 persen, jasa perusahaan minus 6,1 persen, akomodasi dan makan minus minus 7,26 persen, serta transportasi dan pergudangan minus 13,12 persen.

Hanya enam sektor yang berhasil tumbuh positif pada kuartal I 2021. Detailnya, infokom tumbuh 8,72 persen, pengadaan air tumbuh 5,49 persen, jasa kesehatan tumbuh 3,64 persen, pertanian tumbuh 2,95 persen, pengadaan listrik dan gas tumbuh 1,68 persen, serta real estat tumbuh 0,94 persen.

Ekonomi tercatat minus 0,74 persen pada kuartal I 2021. Realisasi ini berbanding terbalik dengan posisi kuartal I 2020 yang positif sebesar 2,97 persen.

[Gambas:Video CNN]



(aud/age)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK