Jurus Pemerintah Bangkitkan Produksi Migas Usai 10 Tahun Loyo

CNN Indonesia | Rabu, 09/06/2021 21:09 WIB
BKF mengungkapkan sejumlah jurus yang akan dilakukan pemerintah untuk menggenjot produksi minyak dan gas (migas) pada 2022. Berikut rinciannya. BKF mengungkapkan sejumlah jurus yang akan dilakukan pemerintah untuk menggenjot produksi minyak dan gas (migas) pada 2022.(Dok: Universitas Indonesia).
Jakarta, CNN Indonesia --

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio Nathan Kacaribu mengungkapkan sejumlah jurus yang akan dilakukan pemerintah untuk menggenjot produksi minyak dan gas (migas) pada 2022. Berbagai jurus ini dilakukan karena produksi migas tercatat selalu turun dalam 10 tahun terakhir.

"Lifting migas cenderung menurun, selain dipengaruhi harga, kita juga menghadapi lifting yang terus menurun dalam beberapa tahun terakhir," ungkap Febrio di rapat bersama Badan Anggaran DPR pada Rabu (9/6).

Tercatat lifting minyak semula berada di kisaran 914 ribu barel per hari pada 2010. Lalu turun menjadi 898 ribu barel per hari pada 2011 hingga akhirnya tinggal 705 ribu barel per hari pada 2021.


Begitu juga dengan lifting gas, mulanya 1,32 juta barel setara minyak per hari pada 2010. Kemudian turun menjadi 1,27 juta barel hingga akhirnya tinggal 1 juta barel per hari pada 2021.

Febrio mengatakan lifting migas menurun dalam 10 tahun terakhir karena masih mengandalkan sumur-sumur tua. Masalahnya, sumur-sumur ini mengalami penurunan produktivitas dari tahun ke tahun.

Selain itu, penurunan lifting juga mendapat andil dari rendahnya realisasi investasi di sektor hulu migas. Catatannya, investasi hulu migas mencapai US$20 miliar pada 2014, namun jumlahnya menurun jadi US$10 miliar pada 2020.

Khusus pada tahun lalu, lifting migas juga mendapat tekanan dari krisis ekonomi akibat pandemi virus corona yang merebak di hampir seluruh negara di dunia. Hal ini membuat permintaan migas juga berkurang di masyarakat.

Atas berbagai kondisi ini, Febrio mengatakan pemerintah sudah menyiapkan beberapa jurus untuk mendongkrak lagi lifting migas. Pertama, dengan menyederhanakan dan memudahkan perizinan untuk meningkatkan investasi hulu migas.

Kedua, meningkatkan dan memperluas kebijakan pelayanan satu pintu. Ketiga, transformasi sumber daya ke cadangan.

Keempat, mempertahankan tingkat produksi eksisting yang tinggi. Kelima, mempercepat chemical Enhanced Oil Recovery (EOR) dan melakukan eksplorasi untuk penemuan cadangan besar.

"Ini semua dikombinasikan dengan pengelolaan biaya yang efisien sehingga bisa meningkatkan kualitas dan kuantitas," imbuhnya.

Di sisi lain, pemerintah juga memberikan amunisi tambahan berupa insentif fiskal atau pajak. Salah satunya, pajak korporasi akan diturunkan dari 22 persen pada 2020 menjadi 20 persen pada 2022.

Tapi, dividend tax akan naik dari 15,6 persen menjadi 16 persen. Namun, Febrio mengklaim secara total kebijakan pajak ini tetap menguntungkan karena turun dari 37,6 persen menjadi 36 persen.

"Jadi ke depan ini tetap lebih efisien dan diharapkan bisa mendorong investasi di hulu migas dan lifting migas itu sendiri," pungkasnya.

[Gambas:Video CNN]



(uli/age)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK