Co-Firing di 17 PLTU, PLN Hasilkan Energi Hijau Setara 189 MW

PLN, CNN Indonesia | Rabu, 23/06/2021 11:16 WIB
Co-firing tak hanya membuat PLN dapat meningkatkan bauran energi terbarukan dengan cepat, namun juga menjadi solusi mengatasi sampah dan limbah. Co-firing tak hanya membuat PLN dapat meningkatkan bauran energi terbarukan dengan cepat, namun juga menjadi solusi mengatasi sampah dan limbah. (Foto: Arsip PLN)
Jakarta, CNN Indonesia --

PT PLN (Persero) menyatakan berhasil melakukan implementasi co-firing atau pencampuran biomassa dengan batu bara pada 17 Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) hingga Juni 2021. Dari kegiatan tersebut, perseroan menghasilkan energi hijau dari ekivalen kapasitas pembangkit 189 Mega Watt (MW).

Executive Vice President Komunikasi Korporat dan CSR PLN Agung Murdifi menyebut capaian tersebut sebagai bukti keseriusan PLN mendukung program pemerintah dalam mempercepat pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) yang ditargetkan di angka 23 persen pada 2025 mendatang.

"Program co-firing pada PLTU juga membantu PLN dalam mengurangi konsumsi batu bara sehingga bisa menekan emisi karbon, di samping meningkatkan bauran energi baru terbarukan," kata Agung.


Dari total 17 PLTU yang menggunakan biomassa secara komersial tersebut, 12 di antaranya tersebar di Jawa, dan 5 berlokasi di luar Jawa. Pembangkit-pembangkit itu dikelola dua anak usaha PLN, yaitu PT Indonesia Power dan PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB).

Secara rinci, Indonesia Power menghasilkan energi hijau melalui co-firing di PLTU Suralaya 1-4, PLTU Suralaya 5-7, PLTU Sanggau, PLTU Jeranjang, PLTU Labuan, PLTU Lontar, PLTU Pelabuhan Ratu, PLTU Barru dan PLTU Adipala. Sedangkan PJB menghasilkan energi hijau melalui co-firing di PLTU Paiton Unit 1-2, PLTU Pacitan, PLTU Ketapang, PLTU Anggrek, PLTU Rembang, PLTU Paiton 9, PLTU Tanjung Awar-Awar dan PLTU Indramayu.

PLNCo-firing tak hanya membuat PLN dapat meningkatkan bauran energi terbarukan dengan cepat, namun juga menjadi solusi mengatasi sampah dan limbah. (Foto: Arsip PLN)

Agung menambahkan, dalam pelaksanaannya kedua anak usaha PLN itu memanfaatkan limbah serbuk kayu atau sawdust, woodchip, dan SRF (Solid Recovered Fuel, berasal dari sampah). Untuk 2021, diperkirakan kebutuhan biomassa untuk bahan bakar pembangkit mencapai 570 ribu ton.

Saat ini, demi menjaga keberlanjutan pasokan bahan baku biomassa, PLN telah mendapat kepastian pasokan dari sejumlah perusahaan.

"Terima kasih kepada para mitra pemasok biomassa ke PLTU PLN. Semoga kerja sama ini terus berlanjut dan bisa memberi nilai tambah bagi para mitra," kata Agung.

Co-firing adalah proses penambahan biomassa sebagai bahan bakar pengganti parsial atau bahan campuran batu bara di PLTU. Biomassa dapat berasal dari berbagai limbah, seperti dari pertanian, industri pengolahan kayu, hingga limbah rumah tangga serta tanaman energi yang ditanam pada lahan kering atau dibudidayakan pada kawasan Hutan Tanaman Energi, misalnya pohon kaliandra, gamal, juga lamtoro.

Melalui co-firing, PLN tak hanya mampu meningkatkan bauran energi terbarukan dengan cepat, tanpa melakukan investasi untuk membangun pembangkit baru. Agung menjelaskan, co-firing juga bisa menjadi solusi mengatasi sampah dan limbah.

Ditegaskan, PLN akan terus meningkatkan bauran energi hijau atau EBT dalam menyediakan listrik nasional sebagai bentuk nyata transformasi melalui aspirasi Green. Adapun target peningkatan kapasitas pembangkit EBT ditetapkan menjadi 16 GW pada 2024 mendatang.

Salah satu caranya, melalui program co-firing di 52 PLTU dengan total kapasitas 18.154 MW, terdiri dari 16 PLTU di Jawa, Madura, Bali (Jamali) dan 36 PLTU di luar Jamali. Hingga kini, dari 16 unit PLN di Jamali, sekitar 14 di antaranya sudah melakukan ujicoba co-firing, dan 12 unit PLTU sudah implementasi.

Sementara di luar Jawa, program co-firing telah dilakukan uji coba di 27 PLTU, sebanyak 5 PLTU sudah dalam tahap implementasi. Agung menyatakan, jumlah itu masih akan terus bertambah, sesuai roadmap yang telah ditetapkan.

(rea)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK