Obat Terapi Covid-19 Masih Langka di e-Commerce

CNN Indonesia | Rabu, 21/07/2021 15:30 WIB
Delapan obat terapi covid-19 terpantau langka dijual di e-commerce hingga Rabu (21/7). Padahal, delapan obat itu sudah mendapat izin darurat dari BPOM. Delapan obat terapi covid-19 terpantau langka dijual di e-commerce hingga Rabu (21/7). Padahal, delapan obat itu sudah mendapat izin darurat dari BPOM. Ilustrasi. (CNN Indonesia/ Adi Maulana).
Jakarta, CNN Indonesia --

Obat terapi covid-19 terpantau langka dijual di lapak e-commerce pada Rabu (21/7) siang. Sebelumnya, ada delapan obat terapi penanganan covid-19 yang sudah mendapat izin penggunaan darurat (Emergency Use Authorization/EUA) oleh BPOM.

Delapan obat terapi covid-19 tersebut adalah Remdesivir, Favipiravir, Oseltamivir, Immunoglobulin, Ivermectin, Tocilizumab, Azithromycin, dan Dexametason (tunggal).

Pemerintah juga telah menetapkan harga eceran tertinggi (HET) untuk kedelapan jenis obat terkait lewat keputusan Menteri Kesehatan nomor HK.01.07/MENKES/4826/2021.


Dari pantauan CNNIndonesia.com, di tiga e-commerce berbeda, yakni Tokopedia, Shopee Indonesia, dan Lazada Indonesia, pedagang yang menjual obat terapi covid-19 masih relatif sepi.

Dari deretan obat tersebut, hanya segelintir saja yang masih beredar di e-commerce dan dijual di atas HET. Salah satunya Azithromycin 500 Mg yang per strip dijual seharga Rp161 ribu di Lazada.

Penjual atas nama Maleficent Shop tersebut menjual harga 10 tablet atau 1 strip dengan harga di atas Rp150 ribu dan diklaim sudah diskon. Padahal, HET dari pemerintah hanya Rp1.700 per tablet atau Rp17 ribu per strip.

Sementara, penjual atas nama Hartin Store juga menjual Azithromycin 500 Mg seharga Rp237 ribu. Sayangnya, penjual tidak merinci harga dibanderol untuk berapa banyak tablet.

Selanjutnya juga dijual Ivermectin. Meski langka, Ivermectin 12 Mg masih bisa ditemukan di Lazada dengan harga Rp175 ribu untuk isi 6 tablet.

Penjual atas nama Jualannyalaris memastikan bahwa obat yang dijual merupakan Ivermectin konsumsi manusia. Penjual juga mengklaim bahwa Ivermectin yang dijual merupakan obat keras dan diimpor dari India.

"Stok terbatas, kami tidak menaikkan harga atas dasar permintaan tinggi, jadi tolong tidak mengatakan kami tidak etis," jelas penjual.

Sedangkan di Tokopedia terpantau obat Ivermectin yang dijual merupakan obat cacing untuk konsumsi anjing. Sedangkan untuk konsumsi manusia terpantau tidak dijual. Di Lazada, Ivermectin terlihat kosong.

Adapun obat terapi covid-19 lainnya terpantau kosong.

Chief Customer Officer Lazada Indonesia Ferry Kusnowo mengatakan pihaknya memperketat pengawasan penjualan produk penunjang kesehatan di tengah kenaikan permintaan produk kesehatan selama PPKM Darurat.

Ia memastikan pihaknya akan memberikan sanksi tegas secara langsung terhadap penjual terkait, seperti menurunkan (delisting) produk yang bersangkutan dari platform kami hingga melarang dan memblokir akun penjual untuk berjualan di Lazada.

"Kami berterima kasih kepada semua pihak, termasuk masyarakat maupun lembaga pemerintah, yang memberikan masukan atau informasi kepada kami jika menemukan produk-produk kesehatan yang tak sesuai dengan peraturan yang berlaku," ujarnya lewat pernyataan yang diterima CNNIndonesia.com, dikutip pada Rabu (21/7).

Pernyataan serupa juga sebelumnya disampaikan oleh Tokopedia dan Shopee Indonesia.

"Tokopedia sudah menetapkan kebijakan pengendalian harga dan menindak tegas penjual yang memasang harga produk di atas kewajaran. Kebijakan ini sejalan dengan keputusan Menkes nomor HK.1.7/Menkes/4826 tahun 2021," jelas Ekhel Chandra Wijaya, External Communications Senior Lead Tokopedia.

[Gambas:Video CNN]



(wel/bir)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK