Dahlan Iskan Ingin Telusuri Bisnis Akidi Tio di Singapura

CNN Indonesia | Rabu, 04/08/2021 10:43 WIB
Mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan ingin menelusuri bisnis Akidi Tio di Singapura guna mengetahui upaya Heriyanti mengurus sumbangan Rp2 triliun untuk covid. Dahlan Iskan berkeinginan untuk menulusuri bisnis Akidi Tio di Singapura guna mengetahui kebenaran sumbangan Rp2 triliun dari keluarganya untuk penanganan covid. (ANTARA FOTO/Umarul Faruq).
Jakarta, CNN Indonesia --

Eks Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan mengaku ingin menelusuri bisnis Akidi Tio di Singapura jika tak ada pandemi covid-19 seperti sekarang. Pandemi membuat mobilitas orang menjadi lebih terbatas.

Mengutip dari laman pribadinya disway.id, Rabu (4/8), ia mengaku memiliki jaringan di Singapura. Dahlan juga sudah tahu di bank mana anak bungsu Akidi Tio, Heryanti mengurus dana sang ayah di Singapura.

"Coba tidak pandemi, saya ingin ke Singapura. Ingin menelusuri sendiri dana itu. Saya punya network di sana. Saya sudah ke bank mana Heryanti mengurus dana itu. Saya juga tahu bank tersebut sekarang menjadi anak perusahaan bank yang sangat besar di Singapura," tulis Dahlan dalam blog-nya.


Dahlan menceritakan Heryanti memiliki bisnis pengadaan barang yang cukup sukses. Hal ini diketahui sahabat Heryanti yang ia sebut Si Cantik.

Namun, Heryanti pernah diadukan ke polisi oleh pengusaha Ju Bang Kioh karena dugaan penipuan sebesar Rp6 miliar. Hal ini berkaitan dengan pengadaan barang di Istana.

"Proyek itu ternyata tidak ada. Uang Rp6 miliar tersebut, katanya habis untuk mengurus penarikan danah ayah Heryanti (Akidi Tio) di Singapura," ucap Dahlan.

Menurut Dahlan, banyak orang kaya China yang memiliki bisnis di Singapura. Selain Akidi Tio, ada pula Tong Djou.

[Gambas:Video CNN]

Namun, Tong Djou juga sudah meninggal. Akidi Tio dan Tong Djou adalah pengusaha seangkatan.

Dahlan memprediksi bahwa Akidi Tio memiliki beberapa mitra bisnis. Namun, Akidi Tio bukanlah pemegang saham mayoritas, sehingga keputusan dalam RUPS tetap sah meski tanpa kehadiran Akidi Tio.

"Aki kan sudah meninggal 12 tahun lalu. Setidaknya 12 tahun terakhir perusahaan itu berjalan tanpa Aki. Setidaknya sudah 12 tahun pula tidak ada yang mewakili Aki dalam setiap RUPS," jelas Dahlan.

Namun, undangan RUPS tetap akan dikirim ke alamat Akidi Tio di Singapura. Hanya saja, Dahlan tak mengetahui persis ke mana undangan itu dikirim.

"Bisa saja Aki memakai alamat kantor pengacara di sana. Biasa seperti itu. Kira-kira 30 tahun lalu saya juga punya perusahaan di Singapura, alamat Singapura saya juga di kantor pengacara," kata Dahlan.

Dahlan menjelaskan 12 tahun sejak meninggalnya Akidi Tio sudah lama sekali. Bisa saja saham Akidi Tio hilang atau dihilangkan.

"Itu mudah, apalagi kalau lewat hostile," imbuh Dahlan.

Ia memperkirakan salah satu pemegang saham di perusahaan Akidi Tio kecewa dan memberi tahu kepada anak-anak Akidi Tio bahwa sang ayah masih memiliki harta di Singapura.

"Perkiraan saya anak-anak Aki lantas mulai mengurus harta itu. Tapi masalahnya tidak sederhana. Lalu enam anak Aki menyerah, tidak mau lagi mengurusnya. Tinggal Heryanti sendiri yang masih bersemangat," ujar Dahlan.

Namun, biaya yang harus dikeluarkan Heryanti juga mahal. Biaya itu itu bukan untuk 'sogokan'.

Heryanti harus menyewa pengacara. Biasanya, biaya untuk pengacara di Singapura dihitung per jam.

"Penjelasan pengacara itu bisa saja membuat Heryanti punya harapan besar," katanya.

Lalu, Heryanti bisa saja kecewa dengan pengacara pertama. Kemudian, ia kenal dengan pengacara lainnya yang memberikan harapan lebih besar.

"Heryanti pun ganti pengacara. Harus diskusi lagi dengan pengacara baru berjam-jam, argometer jalan terus," jelas Dahlan.

Diketahui, nama pengusaha Akidi Tio menjadi pembicaraan di banyak pihak setelah keluarga menyatakan bakal menyumbang dana Rp2 triliun atas nama Akidi Tio untuk penanganan covid-19 di Sumatra Selatan.

Pencairan dilakukan lewat rekening giro milik Heryanti. Namun, penyidik Polda Sumatera Selatan mengungkap bahwa saldo di rekening giro milik Heryanty tidak mencukupi untuk mentransfer sebesar Rp2 triliun.

Hal tersebut terungkap usai penyidik melakukan koordinasi dengan Bank Mandiri. Heryanti pun sempat diperiksa, tetapi ia diizinkan untuk meninggalkan kantor polisi pada malam hari usai pemeriksaan.

(aud/agt)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK