Sektor Tenaga Kerja RI Perlu 10 Tahun untuk Pulih dari Krisis

CNN Indonesia | Rabu, 04/08/2021 14:06 WIB
Bappenas mencatat 4,6 juta pekerja masuk ke sektor pertanian pada krisis ekonomi 1998 dan membutuhkan waktu 10 tahun untuk kembali ke tingkat sebelum krisis. Bappenas mencatat 4,6 juta pekerja masuk ke sektor pertanian pada krisis ekonomi 1998 dan membutuhkan waktu 10 tahun untuk kembali ke tingkat sebelum krisis. Ilustrasi. (CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia --

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) atau Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mengungkapkan sektor tenaga kerja Indonesia membutuhkan waktu hingga sepuluh tahun untuk keluar dari dampak krisis ekonomi menuju kondisi sebelum krisis.

Deputi Bidang Ekonomi Kementerian PPN/Bappenas Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan hal tersebut berkaca dari krisis ekonomi 1998 lalu yang merupakan pengaruh dari krisis Asia. Kala itu, sebanyak 4,6 juta pekerja berpindah ke sektor pertanian akibat krisis ekonomi.

"Kalau kita belajar dari krisis yang lalu, 4,6 juta orang masuk ke sektor pertanian saat krisis ekonomi 1998, ini ternyata membutuhkan waktu sepuluh tahun setelah krisis Asia untuk kembali ke tingkat sebelum krisis," ujarnya dalam webinar CSIS dan Transformasi Ekonomi Menuju Indonesia 2045, Rabu (4/8).


Menurutnya, kondisi serupa terjadi pada krisis akibat pandemi covid-19 sekarang ini. Pasalnya, banyak pekerja yang beralih dari sektor formal menuju informal akibat pandemi covid-19.

"Jadi, fenomena perpindahan dari sektor formal ke informal dalam sektor tenaga kerja ini juga perlu mendapat perhatian," ujarnya.

Sementara itu, lanjutnya, Produk Domestik Bruto (PDB) membutuhkan waktu yang lebih lama lagi dibandingkan sektor tenaga kerja untuk pulih menuju kondisi sebelum krisis. Bahkan, ia menyatakan tren PDB Indonesia saat ini belum bisa kembali pada kondisi sebelum krisis 1998.

"Bahkan sampai saat ini kita belum bisa mengembalikan kepada trajectory (tren) PDB jika tidak ada krisis 1998," ujarnya.

Menurutnya, kondisi ini terjadi lantaran krisis menimbulkan biaya permanen bagi perekonomian sehingga mempengaruhi pertumbuhan ekonomi.

Serupa dengan krisis sebelumnya, Bappenas juga memperkirakan pandemi covid-19 menyebabkan biaya permanen bagi Indonesia ke depan apabila tidak disertai transformasi secara fundamental.

"Inilah dampak permanen yang kemungkinan kita bisa juga alami setelah covid-19 ini, jika kita tidak melakukan perubahan yang fundamental," ujarnya.

Bahkan, kondisi ini mulai tercermin dari turunnya Indonesia dari negara pendapatan menengah atas menjadi pendapatan negara menengah ke bawah akibat kontraksi ekonomi pada 2020 lalu. Indonesia turun kelas bersama Belize, Iran, Mauritius, Panama, Romania, dan Samoa.

"Akibat covid ini program pengentasan kemiskinan semakin terhambat dan ketimpangan semakin meningkat. Terlihat tenaga kerja beralih dari sektor produktivitas yang lebih tinggi jadi ke sektor informal sehingga produktivitas lebih rendah," ujarnya.

[Gambas:Video CNN]



(ulf/sfr)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK