Membedah Komponen Penopang Ekonomi Melesat 7,07 Persen

CNN Indonesia
Kamis, 05 Agu 2021 13:20 WIB
BPS mencatat ekonomi RI melesat 7,07 persen pada kuartal II 2021. Berikut komponen penopangnya. Ekonomi RI berhasil keluar dari resesi pada kuartal II setelah tumbuh 7,07 persen. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan ekonomi Indonesia mampu tumbuh 7,07 persen secara tahunan pada kuartal II 2021 sehingga berhasil keluar dari jurang resesi. Menurut mereka pertumbuhan itu komponen utama penopangnya berasal dari konsumsi rumah tangga dan investasi.

"Sekitar 84,93 persen PDB berasal dari konsumsi rumah tangga dan investasi. Artinya, pertumbuhan konsumsi dan investasi mempengaruhi pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan," ujar Kepala BPS Margo Yuwono saat pengumuman data ekonomi Indonesia kuartal II 2021 secara virtual, Kamis (5/8).

Secara rinci, sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia berasal dari konsumsi rumah tangga sebesar 3,17 persen, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi 2,3 persen, ekspor setelah dikurangi impor 0,98 persen, konsumsi pemerintah 0,61 persen, dan sisanya 0,01 persen dari konsumsi lembaga non-profit pendukung rumah tangga.

Pertama, konsumsi rumah tangga. Margo mengatakan komponen penopang ekonomi ini tumbuh 5,93 persen. Pertumbuhannya mencapai rata-rata pertumbuhan konsumsi rumah tangga seperti sebelum pandemi covid-19.

Konsumsi rumah tangga tumbuh tinggi berkat pulihnya indeks keyakinan konsumen dari 82,14 pada kuartal II 2020 menjadi 104,42 pada kuartal II 2021. Hal ini secara riil membuat penjualan eceran naik 11,62 persen.

"Penguatan terjadi pada kelompok penjualan makanan, minuman, tembakau, sandang, suku cadang dan aksesoris, bahan bakar kendaraan, serta barang lainnya," jelasnya.

Selain itu, juga tercermin dari penjualan mobil penumpang dan motor, masing-masing meroket 904,32 persen dan 268,64 persen. Kemudian, juga didukung oleh meningkatkan jumlah penumpang di angkutan kereta api 114,18 persen, laut 173,56 persen, dan udara 456,51 persen.

[Gambas:Video CNN]

Di sisi lain, pertumbuhan positif konsumsi rumah tangga juga terbantu oleh penyaluran bantuan sosial (bansos) dari pemerintah. Namun, Margo mencatat pertumbuhan besaran dananya sebenarnya menurun 59,02 persen pada kuartal II 2021 dari kuartal II 2020.

"Bansos Tunai (BST) itu membantu peningkatan sumber pembiayaan bagi konsumsi rumah tangga, itu jadi sumber pendapatan," ujarnya.

Kedua, investasi yang tumbuh 7,54 persen. Pertumbuhan ini tercipta dari realisasi belanja APBN yang naik 45,56 persen pada kuartal II 2021 dari kuartal II 2020. Selain itu, realisasi investasi yang tercatat di BKPM juga meningkat 16, 21 persen.

"Pertumbuhan barang modal jenis kendaraan dipengaruhi oleh peningkatan produk kendaraan domestik. Hampir seluruh barang modal jenis peralatan lainnya juga tumbuh, baik yang berasal dari domestik maupun impor," tuturnya.

Ketiga, ekspor yang tumbuh 31,78 persen dan impor 31,22 persen. Pertumbuhan ekspor melaju kencang berkat naiknya harga komoditas dan permintaan dari sejumlah negara mitra dagang Indonesia, seperti China, AS, Singapura, dan lainnya.

"Jadi pemulihan dari mereka (negara mitra dagang), berpengaruh besar, utamanya didorong oleh permintaan barang mineral, besi dan baja, serta mesin dan peralatan listrik. Sementara untuk ekspor migas karena ada peningkatan volume dan harga migas," terangnya.

Sedangkan dari sisi impor, kenaikan didominasi oleh komoditas mesin, pesawat mekanik, peralatan listrik, besi dan baja, serta plastik dan barang dari plastik. Hal ini tak hanya dari sisi peningkatan volume tapi juga harga.

Keempat, konsumsi pemerintah tumbuh 8,06 persen. Margo mengatakan hal ini didorong oleh realisasi belanja barang dan jasa serta pegawai, masing-masing meningkat 82,1 persen dan 19,79 persen. Selain itu, juga didukung oleh program penanganan pandemi covid-19, seperti vaksinasi, pengadaan alat kesehatan, testing dan tracing, serta program lainnya.

Kelima, konsumsi LNPRT tumbuh 4,12 persen. Pertumbuhannya turut menopang konsumsi rumah tangga.

Berdasarkan lapangan usaha, sumber pertumbuhan sekitar 64,85 persen berasal dari sektor industri, pertanian, perdagangan, konstruksi, dan pertambangan. Tapi, dari masing-masing sektor, pertumbuhan tertinggi ada di industri transportasi dan pergudangan mencapai 25,1 persen.

Lalu, diikuti akomodasi dan makanan minuman 21,58 persen, jasa lainnya 11,97 persen, dan jasa kesehatan 11,62 persen. Sementara pertumbuhan terendah ada di pertanian sekitar 0,38 persen.

"Untuk sektor kesehatan, hal-hal yang mendorong pertumbuhan karena insentif nakes dan peningkatan pendapatan rumah sakit dan klinik untuk uji spesimen covid," katanya.

Berdasarkan wilayah, kontribusi terbesar bagi ekonomi nasional berasal dari pertumbuhan ekonomi di Pulau Jawa mencapai 57,92 persen. Kemudian, diikuti Sumatera 21,73 persen, Kalimantan 8,21 persen, Sulawesi 6,88 persen, Bali dan Nusa Tenggara 2,85 persen, serta Maluku dan Papua 2,41 persen.

Namun, pertumbuhan tertinggi sebenarnya terjadi di Maluku dan Papua mencapai 8,75 persen. Lalu, diikuti Sulawesi 8,51 persen, Jawa 7,88 persen, Kalimantan 6,28 persen, Sumatra 5,27 persen, serta Bali dan Nusa Tenggara 3,7 persen.

(agt/agt)
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

TERPOPULER