Chatib Basri Respons Ekonomi RI Meroket 7 Persen

CNN Indonesia | Kamis, 05/08/2021 18:05 WIB
Menteri keuangan era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Chatib Basri mengungkap data pertumbuhan ekonomi terbaru menunjukkan perbaikan ekonomi mulai terjadi. Menteri keuangan era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Chatib Basri mengungkap data pertumbuhan ekonomi terbaru menunjukkan perbaikan ekonomi mulai terjadi.(Gentur Putro Jati).
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri keuangan era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Chatib Basri menanggapi capaian pertumbuhan ekonomi kuartal II 2021 sebesar 7,07 persen. Menurutnya, angka itu menunjukkan perbaikan ekonomi mulai terjadi pada kuartal II 2021.

"Performa di kuartal II mencapai 7,07 persen itu menunjukkan bahwa perbaikan ekonomi terjadi dan ini konsisten dengan berbagai leading indicator (indikator utama)," ujarnya dalam acara Dialog Ekonomi, Kamis (5/8).

Sejumlah indikator tersebut antara lain, pertumbuhan penjualan mobil melesat 758,68 persen sepanjang April-Juni 2021 menjadi 24.0042 unit. Serupa, penjualan motor melonjak 268,64 persen menjadi 313.630 unit. Kenaikan penjualan mobil khususnya, dipengaruhi oleh pemberian insentif PPnBM ditanggung oleh pemerintah.


Selain itu, ekspor Indonesia juga meningkat tajam hingga 31 persen pada kuartal II. Menurutnya, kenaikan ekspor ini ditopang oleh peningkatan aktivitas manufaktur dan kenaikan harga sejumlah komoditas di pasar global seperti batu bara.

"Itu sebabnya penerimaan pajak lebih baik dibandingkan dengan tahun lalu pertumbuhannya, karena penerimaan pajak banyak datang dari tradables sektor yang dikontribusikan oleh perusahaan SDA, jadi kontribusi sektor ekspor itu sangat signifikan," imbuhnya.

Selain itu, konsumsi rumah tangga mulai pulih dipicu oleh pelonggaran mobilitas selama kuartal II. Namun, lonjakan pertumbuhan ekonomi juga ditopang oleh faktor teknikal lantaran basis pertumbuhan ekonomi kuartal II 2020 sangat rendah yakni minus 5,32 persen.

"Tapi, saya tambahkan pertumbuhan yang tinggi ini terjadi karena ini data yoy dimana kita bandingkan dengan kuartal II 2020 yang waktu itu kontraksi minus 5,3 persen," ujarnya.

Sepanjang tahun ini, Chatib memperkirakan pertumbuhan ekonomi bisa tumbuh positif di kisaran 4 persen. Angka itu turun dari proyeksi Chatib sebelumnya yakni 5,3 persen, tetapi masih dalam rentang target pemerintah yakni 3,7 persen sampai 4,5 persen.

"Mungkin kita akan sulit mencapai 5 persen, growth kita mungkin pada kisaran sedikit di bawah 4 persen atau 4 persen lebih sedikit, range dalam kaitan itu. Tetapi, dalam konteks ini saya kira kita lihat kondisi 2021 lebih baik dari 2020 yang mengalami kontraksi," ujarnya.

Menurutnya, tantangan pertumbuhan ekonomi ke depan adalah menjaga mobilitas tetap berjalan, namun kasus covid-19 tetap bisa ditekan.

Kondisi itu dinilai hanya bisa terwujud dengan pengetatan protokol kesehatan dan percepatan vaksinasi. Pasalnya, pada April-Juni ketika mobilitas dilonggarkan tren kasus kembali naik, sehingga memaksa pemerintah melakukan PPKM darurat dan level 4.

"Kita bisa lihat di sini berarti kalau kita ingin menjaga pemulihan ekonomi ke depan, maka yang harus dilakukan adalah bagaimana mobilitas tetap berjalan tetapi tetap, aman itu kuncinya," ujarnya.

[Gambas:Video CNN]



(ulf/age)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK